Skip to main content

ORASI

Mental Inlander di Bali: Saat Bule Dijadikan Trofi dan Cewek Lokal Diinjak Ego Laki-laki

Pernah lihat konten laki-laki yang bangga memamerkan kedekatannya dengan perempuan bule, lalu di saat bersamaan merendahkan fisik perempuan lokal? Di ranah media sosial, fenomena ini kadang dianggap sebatas “selera”. Padahal, kalau kita bedah lebih dalam, ada persoalan yang jauh lebih berkarat daripada sekadar preferensi romantis.

Tentu, mari kita perjelas satu hal sejak awal: ini sama sekali bukan representasi seluruh laki-laki Bali. Mayoritas pria Bali adalah pekerja keras yang tahu cara menghargai perempuan, baik itu ibu, saudara, maupun pasangannya. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada segelintir pria yang menggunakan perempuan—baik lokal maupun asing—sebagai alat untuk memvalidasi ego dan kejantanan mereka di tengah kerasnya persaingan sosial.

Pertanyaannya: kenapa harus memuja “barang import” sambil menginjak identitas sendiri?

Bule Sebagai “Social Currency” dan Piala Validasi

Ketertarikan terhadap orang dari ras atau negara lain pada dasarnya adalah hal yang normal. Masalah baru muncul ketika hubungan dengan orang asing itu dipakai sebagai bukti bahwa seseorang lebih macho, lebih sukses, atau berada di kelas sosial yang lebih tinggi.

Di beberapa titik kumpul pariwisata Bali, punya circle ekspat atau pacaran dengan bule sering kali dianggap keren dan global. Kedekatan dengan orang Barat seolah menjadi pencapaian sosial tersendiri. Dalam sosiologi kasual, bule akhirnya tidak lagi dilihat sebagai manusia seutuhnya, melainkan sebagai social currency—alat tukar sosial untuk menaikkan harga diri seseorang di mata lingkungannya.

Laki-laki yang merasa insecure atau kalah saing secara ekonomi sering kali mencari cara termudah untuk merasa memegang kendali. Mekanisme simboliknya sederhana: Bule dianggap bernilai tinggi, mendapatkannya itu sulit, jadi kalau berhasil menidurinya, berarti status kejantanannya otomatis ikut naik.

Warisan Kolonial bernama Pasal 109

Kalau kita mundur ke belakang, mentalitas mengagungkan ras Kaukasia ini punya akar sejarah yang gelap. Pada masa Hindia Belanda, masyarakat secara nyata dibedakan melalui kategori hukum berdasarkan ras.

Aturan bernama Pasal 109 Regeringsreglement membagi penduduk menjadi kategori European (Eropa) dan Inlander (Pribumi). Hierarki ini bukan cuma soal siapa yang menjajah, tapi melembagakan standar tentang siapa yang dianggap modern, kaya, cantik, dan berkuasa. Bahkan ketika organisasi pegawai bumiputra pada tahun 1932 meminta kata Inlander diganti menjadi Indonesiër, pemerintah kolonial menolaknya karena istilah itu mengikat struktur kelas sosial.

Kita mungkin sudah merdeka secara politik, tapi internalized racism—kondisi di mana seseorang menginternalisasi bias dan menganggap kelompoknya sendiri inferior—bisa bertahan lintas generasi. Pariwisata Bali yang mempertemukan wisatawan Barat (dengan uang dan mobilitas global) semakin mempertebal hierarki ekonomi dan rasial ini.

Objektifikasi Ganda: Trofi vs Keset

Ironi terbesar dari fenomena ini adalah beban yang ditanggung oleh para Gek dan Luh di Bali. Perempuan Bali dituntut 24/7 untuk menjaga tradisi, mebanten, dan menjaga nama baik keluarga. Namun, di mata laki-laki dengan toxic masculinity berbalut mental inlander, nilai luhur itu mendadak disamakan dengan “plastik permen” hanya karena tidak memenuhi standar kecantikan Eurosentris.

Di sisi lain, apakah perempuan asing diuntungkan? Sama sekali tidak. Mereka tidak dihargai karena kepribadian atau pemikirannya. Mereka sekadar dijadikan piala atau trofi. Kebulean mereka dieksploitasi menjadi simbol status bagi si laki-laki. Ini adalah objektifikasi ganda yang luar biasa manipulatif.

Menjadi Global Tanpa Harus Merasa Inferior

Gen Z Bali hari ini hidup di era yang unik. Bahasa Inggris, lifestyle Canggu, dan circle internasional memang telah menjadi modal sosial. Tapi memiliki pergaulan global tidak seharusnya membuat kita merasa bahwa segala hal yang berbau lokal itu inferior.

Kita tidak butuh sentimen anti-bule. Banyak hubungan lokal dan asing yang memang murni didasari cinta, bisnis, atau pertemanan. Yang harus kita kritisi adalah pola pikir yang menilai harga diri manusia hanya dari pigmen kulitnya.

Menghina perempuan lokal untuk memuja bule tidak akan membuat seorang pria terlihat seperti Alpha. Hal itu hanya memperlihatkan seberapa dalam krisis maskulinitas dan rasa rendah diri yang sedang ia sembunyikan.

Gimana menurut khe, apakah sisa-sisa mental inlander ini masih sering khe temui di tongkrongan? Coba bagikan artikel ini ke circle khe dan mari berdebat sehat di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *