Mari kita beri tepuk tangan meriah untuk Bali. Pulau ini memang juara dunia kalau urusan memoles jargon “Pariwisata Berbasis Budaya” di brosur hotel dan pidato pejabat. Tapi di balik baliho-baliho Ajeg Bali yang bertebaran di pinggir jalan, ada sebuah ironi brilian: kita ternyata sangat ahli mematikan urat nadi budaya kita sendiri demi sepetak beton tambahan.
Salah satu mahakarya yang sukses jadi tumbal diam-diam dari rakusnya pembangunan modern ini adalah Lukisan Kamasan.
Banyak yang mengira seni tradisional akan mati karena anak muda Gen Z sekarang lebih suka bikin art pakai prompt AI. Sayangnya, realitanya lebih konyol dari itu. Seni klasik Klungkung ini sekarat bukan karena teknologi, melainkan karena megaproyek masa lalu yang dengan sukses mengubur bahan bakunya di bawah urukan reklamasi.
Seni Sakral yang Kalah Sama Beton Pembangunan
Sebelum Anda bisa mendadak jadi seniman di Midjourney, Lukisan Kamasan sudah nongkrong sebagai “bahasa visual sakral” Kerajaan Gelgel dari abad ke-14 hingga ke-16. Ini bukan lukisan sunset massal yang bisa Anda tawar di pasar seni. Ini adalah mahakarya yang dulu jadi standar estetika tertinggi, menghiasi langit-langit paviliun pengadilan Kerta Gosa.
Apa yang bikin seni ini hampir mustahil ditiru zaman sekarang? Karena para pelukis di Desa Kamasan tidak pernah kenal konsep belanja cat kalengan di marketplace.
Bukan Cat Instan, Semuanya Murni Keringat (dan Tulang Babi)
Warna dalam mahakarya ini ditarik paksa dari alam dengan proses yang ekstrem dan tidak masuk akal bagi manusia modern.
- Putih: Mereka harus mencari tulang rahang babi muda atau tanduk menjangan, membakarnya di atas suhu 900°C, lalu menumbuknya sampai halus.
- Hitam (Mangsi): Hasil mengumpulkan jelaga dari lampu minyak kelapa, sedikit demi sedikit.
- Biru: Diekstrak dari perasan daun taum (tanaman indigofera).
- Cokelat: Dihasilkan secara eksklusif dari batu pere, batuan karang laut kemerahan yang habitat alaminya ada di pesisir Pulau Serangan.
Semua proses organik yang “repot” ini diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Tentu saja, sampai akhirnya datanglah solusi cerdas dari para perencana pariwisata di era 90-an.
Megaproyek Serangan: Cara Cerdas Menghapus Palet Warna Cokelat
Demi mendongkrak pariwisata (baca: investasi), megaproyek reklamasi Pulau Serangan dieksekusi pada tahun 1990-an. Ratusan hektare urukan pasir dan beton disuntikkan secara ugal-ugalan ke laut.
Hebatnya, di atas kertas Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang konon dikaji secara “komprehensif” oleh para ahli, ada satu variabel kecil yang luput dari perhitungan: habitat alami batu pere.
Urukan pasir megaproyek tersebut sukses besar mengubur ekosistem karang pesisir. Dalam sekejap, infrastruktur yang katanya demi kemajuan ekonomi ini memotong pasokan satu-satunya warna cokelat esensial bagi Lukisan Kamasan. Sebuah efek domino ekologi yang sangat brilian, bukan?
Ironi Lintas Kabupaten: Denpasar yang Bangun, Klungkung yang Kena Getah
Jarak Pulau Serangan di Denpasar ke Desa Kamasan di Klungkung itu puluhan kilometer. Tapi efek destruktifnya langsung menghantam jantung dapur para pelukis.
Hari ini, para maestro yang tersisa seperti I Wayan Pande Sumantra dan Gede Weda Asmara harus mengais sisa-sisa batu yang masih ada, atau memutar otak mencari substitusi warna cokelat dari luar pulau yang kualitasnya jauh berbeda. Seni klasik yang dulu tidak bisa dihancurkan oleh intrik politik kerajaan, kini justru harus menyerah pada desain infrastruktur pariwisata modern.
Teruslah Teriak “Ajeg Bali”
Kisah punahnya bahan baku Lukisan Kamasan ini adalah bukti nyata dari standar ganda kita. Kita menuntut pelestarian budaya mati-matian agar bisa tetap punya “atraksi” buat dijual ke turis asing. Tapi ironisnya, alat berat yang kita pakai untuk menyambut para turis itulah yang melibas urat nadi budaya tersebut.
Kalau digital art khe salah warna, khe tinggal tekan Ctrl+Z. Tapi saat sebuah ekosistem bahan baku seni dihancurkan oleh ekskavator dan ditimbun pasir reklamasi, khe tidak bisa membatalkannya.
Jadi, silakan pasang lagi baliho Ajeg Bali yang paling besar di pinggir jalan. Sambil kita menebak-nebak, budaya asli mana lagi yang sedang kita bunuh pelan-pelan hari ini atas nama pariwisata.




