Skip to main content

ORASI

Cara “Terbaik” Menikmati Pulau Serangan Bali Tahun 2026

Dulu, Pulau Serangan Bali adalah tempat pelarian paling masuk akal buat healing tipis-tipis.

Rutinitasnya sederhana: lari pagi nyari keringat, gowes keliling pesisir, atau sekadar piknik pinggir pantai tenang sambil nunggu sunset. Aksesnya bebas, pemandangannya luas, dan udaranya masih terasa milik bersama.

Sekarang? Rutinitas itu pelan-pelan butuh penyesuaian. Bukan karena pantainya mendadak hilang, tapi karena pulaunya sedang “naik kelas” menjadi kawasan eksklusif.

Wajah Baru: Antara Mal Mewah dan Pagar Proyek

Buat Khe yang belum update, pada akhir Juli 2026 kemarin baru saja berlangsung soft opening Sira Village di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali.

Secara hitungan ekonomi dan investasi, ini jelas proyek raksasa. Namun, ada satu fakta matematis yang lumayan bikin mikir. Luas daratan awal Pulau Serangan sebelum reklamasi era 90-an itu hanya sekitar 300 hektare. Ajaibnya, kawasan KEK yang sekarang memagarinya disebut memiliki luas hingga 498 hektare.

Daratan barunya ternyata lebih raksasa dari pulau aslinya.

Sengketa Tata Ruang yang Masih Menggantung

Di atas kertas, pemerintah dan pengembang selalu menggaungkan narasi bahwa KEK ini adalah motor ekonomi kreatif. Narasinya indah: menyerap tenaga kerja lokal dan memajukan Bali.

Tapi di lapangan, realitanya tidak semulus itu. Ada 9 rekomendasi dari DPRD Bali terkait tata ruang, aset daerah, izin, hingga ruang laut yang statusnya masih menggantung dan belum ditindaklanjuti oleh Pemprov. Bahkan, nasib daya dukung pulau dan jarak kawasan suci Pura Sakenan yang kurang dari 2 km dari mal tersebut juga ikut dipertanyakan transparansinya.

Mal mewah dan kawasan eksklusif bisa jalan terus, tapi aturan dasarnya malah belakangan?

Kita Ini Tuan Rumah atau Tamu?

Kemajuan itu sah-sah saja. Anak muda Bali tidak anti-investasi, Ton. Tapi kalau ujung-ujungnya pembangunan agresif ini cuma bikin warga lokal jadi penonton di balik pagar proyek, rasanya ada yang salah dari fondasi awal perencanaan ini.

Menikmati pulau sendiri, kok lama-lama rasanya kayak numpang?

Jadi, buat Gek dan Ton yang akhir pekan ini masih berani gowes atau piknik di pesisir Serangan, coba perhatikan sekeliling. Tarik napas panjang dan rasakan: udaranya masih kerasa kayak rumah, atau kita sudah mulai dipaksa sadar diri jadi tamu tak diundang di tanah kelahiran sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *