Skip to main content

ORASI

Ilusi Canggu & Seturan: Kenapa Provinsi ‘Anak Muda’ Justru Kehabisan Gen Z?

Kalau Khe jalan-jalan sore di Canggu, Seminyak, atau mampir ke deretan kafe di Seturan, Jogja, apa yang terlihat? Ribuan anak muda berseliweran dengan outfit estetik, nongkrong di coffee shop, dan memadati beach club. Kesannya, Bali dan Jogja adalah ibu kota masa muda Indonesia.

Tapi, bersiaplah untuk patah hati dengan realita. Sensasi “muda” yang Khe rasakan itu murni ilusi ruang publik. Faktanya, dua provinsi ini diam-diam sedang berubah menjadi panti jompo raksasa.

Berdasarkan data BPS yang memproyeksikan proporsi Gen Z tahun 2025, DI Yogyakarta berada di angka 22,37%, menjadikannya yang terendah secara nasional. Bali menyusul di angka 23,28%, menempati posisi ke-36 dari 38 provinsi.

Dengan kata lain, kurang dari seperempat penduduk Bali dan DIY masuk kategori Gen Z. Pertanyaannya: Kalau Jogja dan Bali terasa penuh anak muda, kenapa Gen Z justru termasuk paling sedikit secara proporsi?

Bukan Karena Merantau, Tapi Emang Nggak Lahir

Asumsi pertama yang biasanya muncul di kolom komentar boomer adalah: “Oh, anak mudanya pada merantau cari kerja atau berangkat ke kapal pesiar!”

Logika ini rapuh. Mari kita lihat data migrasi. Bali memang magnet pekerjaan yang menarik banyak pendatang, di mana sekitar 6,10% penduduk Bali merupakan migran seumur hidup. Masuknya anak-anak muda dari luar daerah inilah yang membuat Bali terlihat “muda” di area pariwisata.

Namun, alasan utama kenapa Gen Z lokalnya sangat sedikit bukanlah karena mereka kabur, melainkan karena mereka memang tidak diproduksi. Long Form Sensus Penduduk 2020 BPS mencatat Total Fertility Rate (TFR) DIY hanya 1,89. Ini berarti rata-rata seorang perempuan di DIY diperkirakan melahirkan sekitar 1,89 anak. Angka tersebut berada di bawah replacement level (batas normal regenerasi).

Bagaimana dengan Bali? TFR Bali berada di angka 2,04 anak per perempuan. Bali berada sangat dekat dengan batas replacement level tersebut. Kesimpulannya jelas: Bali dan Jogja sama-sama bukan provinsi dengan tingkat kelahiran tinggi.

UMP Lokal vs Harga Turis: Mogok Reproduksi Struktural

Banyak orang yang meromantisasi fenomena ini sebagai pergeseran gaya hidup. Konon, Gen Z lebih mementingkan healing dan kemerdekaan personal daripada punya anak. Sebagai intellectual sparring partner Khe, mari kita buang narasi normatif itu. Gen Z sedang tidak egois; mereka sedang bertahan hidup.

Bali dan Jogja punya kesamaan yang ironis: keduanya adalah “provinsi etalase” bertaraf internasional, namun menggaji warganya dengan standar kabupaten pelosok.

Di Jogja, UMP yang hanya sekitar Rp2,1 juta harus berhadapan dengan harga tanah yang meroket tajam akibat gentrifikasi. Di Bali, UMP sekitar Rp2,8 juta disuruh bertarung melawan cost of living yang berpatokan pada dompet wisatawan asing.

Keputusan anak muda untuk menunda pernikahan atau membatasi jumlah anak (“dua anak cukup, atau nol sekalian”) adalah bentuk Mogok Reproduksi Struktural. Mereka secara rasional menghitung bahwa UMP saat ini hanya cukup untuk mempertahankan hidup individu, bukan untuk membangun keluarga besar.

Pajak Tak Kasat Mata: Kenapa Bali Lebih “Berdarah”?

Pemerintah sering membanggakan bahwa UMP sudah disesuaikan dengan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) versi BPS. Di atas kertas, UMP Bali lebih tinggi dari Jogja. Tapi, KHL pemerintah punya cacat logika yang fatal: mereka hanya menghitung kalori makanan, harga pakaian, dan sewa kos.

BPS lupa memasukkan “KHL Tak Kasat Mata” di Bali. Bagi Ton dan Khe, UMP itu harus dipotong lagi untuk biaya yadnya, mebanten, odalan, dan iuran banjar. Kewajiban adat adalah pajak kultural yang mutlak di Bali. Ketika UMP pas-pasan dipaksa membiayai gaya hidup inflasi pariwisata ditambah kewajiban adat, wajar jika insting Gen Z merespons dengan memangkas pengeluaran masa depan yang paling mahal: melahirkan anak.

Bom Waktu: Lahirnya “Double Sandwich Generation”

Masalah terbesar dari sedikitnya proporsi Gen Z ini baru akan terasa satu dekade ke depan.

Data BPS Bali memproyeksikan pada pertengahan 2025, penduduk Bali mencapai sekitar 4,46 juta orang. Di sisi lain, jika dijumlahkan, penduduk usia 60 tahun ke atas sudah sekitar 670 ribu orang.

Suatu daerah bisa sekaligus mengalami fenomena fertilitas menurun ditambah usia harapan hidup meningkat, yang mengakibatkan proporsi generasi muda mengecil.

Coba bayangkan plot twist ini: Saat lansia makin banyak dan Gen Z makin sedikit, beban siapa yang paling berat? Di Jogja, roda ekonomi akan kekurangan tenaga produktif lokal. Di Bali, bom waktunya double. Gen Z Bali tidak hanya akan menanggung beban ekonomi (sandwich generation), tapi juga menanggung beban regenerasi ayah-ayahan adat yang menuntut fisik dan materi.

Sensasi muda di kafe-kafe itu hanyalah fana, tapi beban KTP lokal itu nyata.

Jadi, kalau jumlah generasi muda makin kecil secara proporsi, menurut Khe apa yang paling dulu terasa ambruk di Bali: roda ekonominya, atau regenerasi adatnya? Mari kita berdebat di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *