Niatnya mau frugal living healing ke Kintamani dengan ongkos transportasi pulang pergi cuma Rp 20.000. Tapi, apakah opsi naik bus Denpasar Kintamani benar-benar sepadan dengan kewarasan dan waktu istirahat di hari libur?
Bagi warga Denpasar yang tulang punggungnya sudah tidak sanggup bawa motor nanjak berjam-jam, kombinasi armada Trans Sarbagita dan DAMRI memang terdengar seperti lifehack jenius. Namun, mari kita bedah realita di lapangan sebelum Khe memutuskan untuk menjadi pejuang healing menderita.
Rute dan Jadwal Bus Denpasar Kintamani: Misi Impossible
Secara teori, rutenya memang ada dan sangat terjangkau. Perjalanan dimulai dari GOR Ngurah Rai menggunakan bus Trans Sarbagita pada pukul 07.00 pagi. Bayangkan, hari libur yang seharusnya dipakai untuk rebahan, Khe harus sudah standby di halte subuh-subuh.
Berikut adalah estimasi rute berangkat yang harus dilewati:
- 06.30 – 07.00: Tiba di GOR Ngurah Rai dan naik Trans Sarbagita (Tarif: Gratis).
- 08.30 – 09.00: Tiba di Terminal Loca Crana, Bangli.
- 09.00: Lari mengejar DAMRI Perintis tujuan Catur (Tarif: Rp 10.000).
Ini adalah titik paling rawan dalam seluruh itinerary. Kalau armada Trans Sarbagita dari Denpasar telat dan DAMRI jam 09.00 sudah berangkat, Khe harus menunggu jadwal berikutnya di jam 11.00. Waktu nongkrong estetik otomatis hangus terpangkas waktu tunggu di terminal.
Ekspektasi Healing, Realita Overthinking di Coffee Shop
Anggaplah semesta mendukung dan Khe tiba di coffee shop Kintamani tujuan sekitar pukul 10.00 hingga 10.30. Gengsi anak muda Bali tentu meronta-ronta melihat menu. Ongkos berangkat memang cuma Rp 10.000, tapi pesanan Kopi Susu Gula Aren dan Croissant bisa tembus seratus ribuan. Gaya hidup kaum mendang-mending, tapi ngopi tetap hedon.
Boro-boro bisa menikmati kabut Gunung Batur dengan tenang. Antara jam 10.30 sampai 12.30, otak akan terus overthinking memikirkan jadwal bus pulang. Ingat, poster jadwal hanya menampilkan waktu keberangkatan dari titik awal (Catur), bukan waktu pasti bus tersebut lewat di depan tempat nongkrong. Jam setengah satu siang, Khe sudah harus gelisah berdiri di pinggir jalan menunggu bus arah Bangli.
Kesimpulan: Hemat Uang, Boros Waktu
Jika dihitung secara finansial, biaya transportasi bolak-balik ini sangat tidak masuk akal murahnya. Rute dari GOR Ngurah Rai ke Bangli dan sebaliknya sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Pengeluaran wajib hanya untuk operasional DAMRI Perintis rute Terminal Loca Crana ke lokasi nongkrong (Rp 10.000) dan kembalinya (Rp 10.000).
Namun, coba hitung waktu yang terbuang. Khe berangkat jam 07.00 pagi dan baru akan tiba kembali di GOR Ngurah Rai sekitar pukul 17.00 hingga 19.00. Hampir 10 hingga 12 jam habis di jalan hanya untuk nongkrong 2 jam di Kintamani. Ini bukan berhemat, tapi memindahkan penderitaan dari fisik ke mental.
Jadi, Ton, masih berani uji nyali naik bus Denpasar Kintamani akhir pekan ini? Bagikan artikel ini ke circle terdekatmu yang wacananya mau jalan-jalan dari tahun lalu tapi modalnya selalu pas-pasan!




