Skip to main content

ORASI

Sanghyang Kuluk: Saat Leluhur Bali Memanggil Entitas Anjing untuk Melawan Wabah

Kita sering banget kena main character syndrome. Ngerasa jadi spesies paling berkuasa di bumi, yang bebas mengendalikan apa saja.

Apalagi kalau ada grubug atau ketidakseimbangan yang melanda desa. Pasti insting pertama adalah: manusia yang harus turun tangan dan melawan alam. Tapi, ada satu fakta sejarah yang siap menampar keras ego tersebut.

Leluhur kita di Bali ternyata punya cara pandang yang terbalik 180 derajat. Alih-alih merasa sok jago menantang alam, mereka justru sadar diri. Mereka malah memanggil kekuatan alam liar dan memberikannya ruang untuk membantu memulihkan keseimbangan ekosistem.

Salah satunya direpresentasikan melalui hewan yang sehari-hari sering cuma kita anggap sebagai penjaga pekarangan, yaitu anjing. Ritual ini dikenal dengan nama Sanghyang Kuluk.

Bukan Tarian Biasa, Apalagi Sekadar Koreografi

Kalau khe dengar kata “Sanghyang”, mungkin yang langsung terbayang adalah Sanghyang Dedari. Wajar, karena lanskap tari sakral Bali memang mendapat pengakuan UNESCO, meski Sanghyang Kuluk sendiri tidak tercatat secara individual di sana.

Keberadaan ritual ini terdokumentasi dengan jelas di Banjar Jangu, Desa Duda, Kecamatan Selat, Karangasem. Di sana, penelitian mencatat ada sedikitnya 17 jenis Sanghyang.

Satu hal yang perlu diluruskan: jangan buru-buru menyebut ini sebagai “tarian” layaknya pentas seni di atas panggung.

  • Orang yang menjadi medium tidak belajar atau menghafal koreografi.
  • Gerakan dipercaya baru muncul ketika sang medium sudah memasuki keadaan nadi atau kerauhan.
  • Mereka menjalankannya sebagai bentuk nyungsung dan ngayah, bukan untuk dipertontonkan layaknya hiburan.

Jadi, ini bukan sekadar pertunjukan manusia yang berpura-pura menjadi anjing. Sanghyang Kuluk dikategorikan sebagai kelompok Sanghyang yang berkaitan dengan kerauhan kekuatan alam.

Mengapa Harus Entitas Anjing?

Ini pertanyaan terbesarnya, Ton. Kenapa anjing?

Memang belum ada sumber akademik primer yang merincikan alasan teologis pastinya. Detail terkait ritual ini juga masih minim; misalnya tentang wujud pakaiannya, gending spesifik yang digunakan, atau apakah mediumnya harus merangkak dan menggonggong. Jadi, tahan dulu imajinasi liarnya. Jangan langsung bikin klaim mistis kalau penarinya akan dirasuki roh anjing lalu menyerang penonton secara brutal.

Tapi, kalau kita mencoba membaca ini secara antropologis, anjing di lingkungan tradisional punya posisi yang sangat unik. Ia adalah makhluk ambang atau liminal. Ia hidup di antara dua dunia: dirawat dan diberi makan di rumah, tapi dibiarkan bebas berkeliaran di perempatan, kebun, hingga setra. Ia menjadi entitas yang paling dekat dengan batas antara ruang aman dan ruang asing yang tak teraba oleh manusia.

Tamparan Keras untuk Ego Modern Kita

Sanghyang Kuluk membuktikan bahwa peradaban Bali tradisional tidak melihat manusia sebagai satu-satunya pusat kehidupan. Batas antara “makhluk penting” dan “makhluk biasa” tidak selalu dibuat berdasarkan ego dan kedudukan manusia semata.

Hewan, tumbuhan, benda, hingga unsur lingkungan bisa mendapat ruang dan kedudukan ritual saat masyarakat melihatnya sebagai bagian dari jaringan kekuatan yang memengaruhi hidup matinya desa.

Plot twist-nya sangat menohok: Keselamatan manusia ternyata tidak bisa diusahakan sendirian. Kita sangat bergantung pada jalinan hubungan dengan makhluk lain, bahkan pada makhluk yang sehari-hari cuma kita panggil “kuluk.

Kalau leluhur kita saja sadar butuh campur tangan entitas alam liar saat situasi kritis, kenapa manusia zaman sekarang sering merasa paling berhak merendahkan derajat hewan di sekitarnya? Coba bagikan opini khe di kolom komentar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *