Enam hari sebelum hari raya Galungan, tepatnya pada hari Kamis Wage Wuku Sungsang, biasanya ada satu pertanyaan jebakan template yang rajin mampir di tongkrongan atau grup WhatsApp keluarga:
“Khe Sugihan Jawa atau Sugihan Bali?”
Pertanyaan yang kelihatannya sepele ini sering kali jadi ajang flexing terselubung. Orang-orang yang merasa punya garis keturunan Majapahit biasanya bakal membusungkan dada dan menjawab, “Gue Sugihan Jawa dong.” Sementara itu, yang merasa penduduk asli akan menjawab dengan pride yang sama besarnya, “Gue Bali Mula asli, pastinya Sugihan Bali.”
Pride keturunan langsung meroket. Tapi masalahnya begini, Ton. Kebanggaan soal bloodline tiap kali merayakan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali itu ternyata cuma dibangun di atas miskonsepsi bahasa yang udah mengakar puluhan tahun. Kasta elit, tapi literasi lontar sulit.
Plot Twist Bahasa Sanskerta
Kalau Khe beneran buka Lontar Sundarigama, fakta etimologinya bakal bikin ego keturunan itu runtuh.
Kata “Jawa” dalam Sugihan Jawa itu sama sekali bukan merujuk pada Pulau Jawa. Kata tersebut sebenarnya berasal dari bahasa Sanskerta “jaba” yang artinya “luar”. Upacara ini adalah momen untuk menyucikan “yang di luar”, alias alam semesta atau Bhuana Agung. Kutipan aslinya berbunyi: “Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh”, yang artinya ini adalah hari penyucian para dewa dan semua bhatara.
Terus, gimana dengan “Bali”? Sama ironisnya. Kata ini bukan merujuk pada nama pulau kita. Dalam bahasa Sanskerta, “Bali” berarti kekuatan yang ada dalam diri manusia. Ritual ini fokus pada pembersihan mikrokosmos atau Bhuana Alit. Lontar Sundarigama menyebutkan: “Kalinggania amrestista raga tawulan,” yang artinya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing.
Jadi, selama bertahun-tahun Khe bawa-bawa pride Majapahit cuma buat ngerayain ritual bersih-bersih pekarangan luar? Agak lucu, kan.
Sains Kosmologi > Ego Silsilah
Leluhur kita itu level mikirnya udah kosmos, bukan sekadar mikirin DNA atau siapa keturunan raja mana.
Dalam filosofi Hindu Bali, alam semesta (Bhuana Agung) dan diri manusia (Bhuana Alit) dibentuk oleh Panca Maha Bhuta yang sama persis. Konsep ini menegaskan bahwa alam semesta dan manusia terbentuk dari unsur yang identik. Apa yang ada di luar, ada juga di dalam.
Bahkan, unsur pembangun alam dan tubuh ini paralel dengan pernyataan ilmuwan Carl Sagan bahwa tubuh manusia mengandung elemen yang sama dengan bintang. Kita ini secara harfiah terbuat dari bahan yang sama dengan jagat raya, tapi entah kenapa malah milih sibuk debat soal KTP masa lalu tiap Galungan datang.
Logika Nyuci: Kenapa ‘Luar’ Dulu, Baru ‘Dalam’?
Pertanyaan selanjutnya: kenapa urutannya harus Sugihan Jawa dulu pada hari Kamis, baru disusul Sugihan Bali pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang? Urutan ini bukan hasil undian, Ton. Ada logika filosofis yang sangat konsisten di baliknya.
Prinsip utamanya adalah kamu tidak bisa membersihkan “dalam” sebelum yang di “luar” tertata. Tradisi Hindu mensyaratkan ruang fisik (sekala) dikondisikan terlebih dahulu sebelum ritual batin (niskala) bisa berjalan optimal. Protokol dua tahap ini identik dengan logika modern “clean your space, clear your mind”. Leluhur Bali sudah meng-encode sistem wellness ini ke dalam kalender 210 hari, jauh sebelum Marie Kondo viral nyuruh kita decluttering kamar.
Skakmat dari Akademisi
Biar artikel ini nggak dikira cuma opini sarkas Media ORASI, mari kita dengar kata para ahlinya.
Prof. I Nyoman Suarka dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana secara eksplisit udah meluruskan miskonsepsi ini. Beliau menyatakan bahwa Sugihan Jawa itu “Bukan karena hari khusus bagi mereka yang berasal dari Jawa Majapahit”. Nama tersebut merujuk pada hari suci para Bhatara untuk melakukan rerebu (menetralisir energi negatif), bukan penanda genealogi etnis.
Lebih menohok lagi, Wakil Ketua I Parisada Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, justru menghimbau agar umat Hindu di Bali melaksanakan KEDUA sugihan tersebut. Kenapa? Ya karena membersihkan alam semesta dan membersihkan diri sendiri itu idealnya jalan beriringan.
Turunkan Egomu, Bersihkan Pelinggihmu
Momen Sugihan Jawa dan Sugihan Bali adalah sistem wellness dan detoks spiritual paling advanced yang diwariskan leluhur. Niat awalnya sangat mulia: menyucikan alam semesta lalu menyucikan batin sendiri. Jangan sampai esensi kosmik yang keren ini dirusak sama ego silsilah yang nggak relevan.
Jadi, buat Khe yang masih sering gatekeeping hari raya pakai jalur keturunan, mending mulai ambil sapu dan bersihin pekarangan sekarang. Gimana menurutmu, Ton? Punya cerita lucu soal debat Sugihan di grup keluarga? Jangan ragu buat ngegas di kolom komentar!




