Skip to main content

ORASI

Matinya Angkot Denpasar: Kenapa Kota yang Makin Praktis Justru Bikin Kita Kesepian?

Kalau kita bicara soal transportasi publik di Denpasar masa lalu, apa yang pertama kali muncul di kepala? Panas? Ngetem lama? Berdesakan dengan orang yang tidak kita kenal?

Angkot dulu memang punya banyak kekurangan seperti panas, menunggu lama, tidak selalu nyaman, dan jadwal tidak pasti. Kita tidak perlu meromantisasi masa lalu. Kendaraan pribadi maupun transportasi online saat ini jelas memberi banyak kemudahan yang dulu tidak kita punya.

Tapi mari kita jujur. Dulu, naik angkot sepulang sekolah bukan cuma soal berpindah dari sekolah ke rumah. Perjalanan itu menciptakan sebuah ruang sosial. Anak sekolah berjalan bersama menuju jalur angkot, menunggu kendaraan yang sama, bertemu kakak kelas, atau anak sekolah lain.

Mereka kenal karena punya perjalanan yang sama. Mungkin yang kita rindukan sebenarnya bukan bentuk kendaraannya, tapi memorinya.

Memori Kolektif dan “Familiar Strangers”

Keberadaan angkutan kota di Denpasar bukan sekadar ingatan kolektif. Dokumen Pemerintah Provinsi Bali mencatat bahwa pada awal 1980-an, Denpasar telah memiliki sejumlah rute angkutan kota. Keputusan Gubernur Bali Nomor 2 Tahun 1983 mengatur tarif untuk rute seperti Sanglah-Gajah Mada, Kreneng-Gajah Mada, Ubung-Gajah Mada, hingga Kreneng-Tanjung Bungkak-Renon-Sanglah.

Angkot pernah menjadi bagian nyata dari kehidupan ekonomi dan mobilitas Denpasar. Di dalam ruang sempit beroda empat itulah terbentuk sebuah konsep yang sangat cocok untuk menjelaskan pengalaman naik angkot zaman sekolah: Familiar Strangers.

Kita tidak kenal dekat dengan mereka. Tapi karena berulang kali berada di tempat dan waktu yang sama, wajahnya menjadi familiar. Anak SMA yang sering naik di sana, kakak kelas yang selalu naik angkot yang sama, atau sopir yang sudah tahu kita biasanya turun di mana.

Penelitian transportasi pada 2026 membahas bagaimana rutinitas perjalanan menciptakan pertemuan berulang yang tidak selalu menjadi persahabatan, tetapi menciptakan rasa familiarity, belonging, dan connection. Kita punya banyak kenalan yang lahir murni dari rute perjalanan.

Kehilangan Ruang di Tengah Kemudahan

Dulu, kota memaksa kita untuk bergeser bareng. Keluar sekolah, berjalan kaki, menuju jalur kendaraan, menunggu, naik bersama penumpang lain, baru turun. Setiap tahapan menghasilkan kemungkinan bertemu orang.

Kajian Journal of Transport & Health menemukan hubungan antara lingkungan yang mendukung aktivitas berjalan kaki dengan social capital dan social cohesion. Pengalaman jalan kaki bareng teman menuju angkot sebenarnya sangat penting dan menciptakan cerita.

Penelitian Ziyi Qin dan Daisuke Fukuda pada 2023 juga menemukan korelasi positif antara penggunaan transportasi publik dengan social capital. Transportasi publik memungkinkan mobilitas sekaligus memberi kesempatan masyarakat melakukan aktivitas sosial.

Sekarang, Denpasar tentu berbeda. Keluar sekolah, buka HP, dijemput, naik motor, atau pesan ojol, lalu langsung menuju titik tujuan. Secara teknologi jauh lebih praktis, tetapi secara sosial perjalanan bisa menjadi lebih privat.

Harga Mahal dari Sebuah Kepraktisan

Kendaraan pribadi semakin melekat dengan kehidupan masyarakat. Penelitian Universitas Udayana pada pegawai Pemerintah Kota Denpasar di Lumintang menemukan bahwa 88,47% responden menggunakan sepeda motor dalam perjalanan kerja pada sampel penelitian tersebut.

Data ini menggambarkan betapa dominannya motor dalam pola perjalanan masyarakat kota. Ketika setiap orang mempunyai kendaraan sendiri, kita mendapatkan kebebasan mobilitas. Berangkat kapan saja, tidak perlu menunggu, langsung sampai tujuan.

Namun ada pertukaran yang terjadi. Semakin personal kendaraan kita, semakin sedikit kebutuhan untuk berbagi perjalanan dengan orang yang tidak kita kenal.

Pertanyaannya bukan lagi enakan zaman dulu atau sekarang. Pertanyaannya adalah: ketika kota menjadi semakin praktis, apakah kita kehilangan beberapa ruang untuk saling bertemu?

Kalau perjalanan kita makin individual, dari mana pertemuan-pertemuan kecil yang tak terduga itu akan datang, Wi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *