Ton, kita harus ngasih standing ovation buat industri pariwisata kita. Di saat dunia pusing memikirkan krisis lingkungan, Bali sukses menciptakan tren baru. Kita berhasil menyingkirkan sistem Subak Bali yang kuno itu, dan menggantinya dengan deretan vila estetik berfasilitas sumur bor raksasa.
Keren banget, kan? Mari kita bedah bagaimana industri ini secara brilian menghancurkan peradaban seribu tahun hanya dalam hitungan dekade.
Mengganti “Cultural Landscape” Menjadi Pulau Beton
Prestasinya nggak main-main, Ton. Menurut data resmi BPS tahun 2024, Bali sukses menghilangkan rata-rata 700 hektare lahan sawah setiap tahunnya.
Bayangkan, kita sedang dalam speedrun menuju pulau beton! Para petani pasti “terharu” melihat tanah warisannya kini tumbuh subur menjadi properti Mediterranean-Tropical seharga miliaran. Lagipula, buat apa gelar kebanggaan “Cultural Landscape” yang diberikan UNESCO pada 29 Juni 2012? Toh, lahan sawah itu jauh lebih cuan jika disulap menjadi kamar sewa harian untuk turis.
Sistem Subak Bali Abad ke-9 vs Mesin Pompa Air
Wajar saja kalau para developer dan investor sangat bangga. Mereka berhasil mengalahkan sistem Subak Bali yang umurnya sudah seribu tahun lebih.
Coba ingat-ingat sejarahnya. Sejak zaman Prasasti Sukawana (882 M) dan Prasasti Trunyan (891 M), leluhur kita capek-capek membuat sistem manajemen air berbasis musyawarah dan filosofi Tri Hita Karana. Tapi sekarang? Sistem otonom sekompleks itu kalah telak sama satu tombol mesin pompa air jet pump milik vila. Sebuah inovasi destruktif yang sangat efisien!
Inovasi Eco-Tourism: Rafting Pengganti Irigasi
Namun, inovasinya tidak berhenti di darat saja. Di kawasan Kluse dan Tegallalang, air irigasi yang biasanya murni dipakai untuk mengairi sawah, sekarang sukses dialihkan untuk kepentingan operasional rafting komersial.
Kreatif banget, kan? Kenapa harus repot-repot menanam padi berbulan-bulan kalau air sungainya bisa langsung dipakai untuk memutar uang dari turis yang sedang mencari adrenaline rush? Pertanian jelas kalah seksi dibandingkan dengan pariwisata.
Hipokrisi Sempurna di Tengah Sawah
Puncak komedinya bisa Khe temukan di kawasan Ubud dan sekitarnya. Kehadiran vila dan hotel di sana sukses membuat debit air subak menurun drastis gara-gara sumur bor raksasa mereka.
Akibatnya, petani lokal hanya bisa pasrah dan melayangkan protes. Di sisi lain, tamu vila asyik membuat konten yoga di pinggir infinity pool dengan caption, “Back to nature, embracing the local culture”.
Pertanyaannya, nature yang mana? Nature yang air tanahnya habis kalian sedot? Ini adalah level mindblowing hypocrisy (kemunafikan tingkat tinggi) yang berkedok eco-tourism.
Kesimpulan: Siapa yang Akan Habis Duluan?
Jadi, mari kita angkat gelas (kalau air di keran Khe masih nyala) untuk merayakan kemenangan telak ini. Sistem Subak Bali mungkin sanggup bertahan lebih dari 1000 tahun menjaga ketahanan pangan kita, tapi akhirnya ia bertekuk lutut juga di tangan mesin ekonomi bernama pariwisata.
Menurut Khe, Ton, apa yang bakal habis duluan di pulau ini: Air tanah kita, lahan persawahan, atau kesabaran petani lokal? Drop opini Khe di kolom komentar, dan share artikel ini ke teman tongkrongan Khe yang kerja di vila!




