Buat mayoritas anak muda yang nongkrong di Selatan, Jembrana Bali itu cuma punya dua arti: tempat numpang ke toilet pas jalur mudik ke Jawa, atau kampung halaman yang terpaksa ditinggalkan demi ngejar UMK Denpasar. Kedengarannya agak dark, tapi mari kita akui saja kalau itu adalah realita sehari-hari anak rantau.
Kita sering protes soal macetnya Canggu atau Sunset Road. Tapi, pernahkah Khe mikir kenapa jalanan makin sesak oleh pekerja rantau? Alasannya sederhana. Ada sebuah kabupaten di ujung barat yang diam-diam menghidupi Bali, tapi ironisnya, kue pariwisatanya tak pernah sampai ke sana.
Jembrana Bali dan Realita di Balik Meja Makan Canggu
Coba ingat-ingat kapan terakhir kali Khe makan seafood platter estetik di beach club Badung, Ton. Udang, cumi, dan lobster yang diulas food vlogger itu tidak turun dari langit. Rantai pasok kemewahan di Selatan itu nyatanya berasal dari Barat.
Berdasarkan data, Jembrana adalah produsen perikanan terbesar di Bali dengan produksi mencapai 26,8 ribu ton pada tahun 2020. Angka ini jauh mengungguli kabupaten lain yang lebih sering wara-wiri di feed Instagram. Jembrana menyuplai protein untuk piring-piring mahal turis dan ekspatriat. Namun, pertanyaannya: apakah petaninya atau nelayannya ikut kaya raya? Tentu saja tidak.
Mengapa Anak Rantau Memilih Eksodus?
Ketimpangan adalah kata kunci yang paling malas diucapkan politisi, tapi paling terasa di dompet warga. Mari kita bandingkan angkanya secara brutal. Di tahun 2024, realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) pariwisata Kabupaten Badung tembus Rp 6,7 triliun. Sementara itu, wilayah penghasil 26,8 ribu ton ikan tadi nyaris tidak masuk radar wisata mana pun.
Akibatnya, anak-anak mudanya eksodus. Mereka rela berdesakan di kos-kosan sempit Denpasar. Mereka kerja lembur menyusun campaign marketing untuk kafe-kafe Selatan yang ironisnya—menjual ikan dari kampung halaman mereka sendiri. Menjadi budak korporat di Selatan dirasa lebih menjanjikan daripada menunggu keajaiban di kampung sendiri.
Proyek Raksasa vs Perut yang Lapar Hari Ini
Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Saat ini, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan sedang digenjot sebagai pelabuhan perikanan terbesar di Bali. Targetnya tidak main-main. Proyek ini diproyeksikan bisa menyerap 55.000 tenaga kerja. Bahkan, nilai produksi ditargetkan meroket menjadi Rp 3,2 triliun per tahun.
Terdengar seperti angin surga? Tentu. Namun, semua angka fantastis itu adalah target pemerintah di masa depan. Sementara itu, cicilan motor dan biaya hidup anak rantau harus dibayar bulan ini. Realitas perut yang lapar tidak bisa ditunda dengan janji proyek bernilai triliunan rupiah.
Menunggu Keadilan untuk Sang Tulang Punggung
Pada akhirnya, Jembrana Bali jelas tidak butuh dikasihani. Kabupaten ini adalah tulang punggung riil ekonomi pulau ini yang bebas dari omong kosong gentrifikasi. Mereka bekerja dalam diam, di atas jukung, di tengah laut.
Namun, ironi ini tetap saja lucu untuk ditertawakan. Yang punya laut siapa, yang panen cuan triliunan dari turis siapa. Sampai sistem ini benar-benar berubah, pemuda Barat akan terus datang ke Selatan. Membawa skill mereka, menyerahkan tenaga mereka, dan menutup hari dengan memakan mi instan di kamar kos yang pengap.
Gimana menurut Khe, Ton? Apakah Bali emang sudah didesain tidak adil dari sananya, atau kita saja yang terlalu naif?




