ORASI

Tiket Pesawat 4 Juta PP: Membedah ‘Ceremonial Guilt’ Perantau Bali Saat Galungan

Galungan sudah di depan mata. Buat sebagian besar orang, ini adalah momen liburan dan perayaan. Tapi buat perantau Bali di luar pulau, momen ini sering kali jadi pemicu overthinking massal di kamar kosan.

Coba buka aplikasi travel di HP-mu sekarang. Harga tiket pesawat Jakarta-Denpasar (PP) menjelang Galungan bisa dengan mudah menembus Rp 4 juta. Buat pekerja UMR atau mahasiswa, angka itu bukan sekadar biaya transportasi, tapi setara dengan biaya hidup untuk bertahan bernapas dua bulan ke depan.

Logika jelas menolak, dompet apalagi. Tapi kenapa masih banyak yang memaksakan diri sampai rela berutang paylater? Jawabannya bukan sekadar rindu masakan rumah. Ada beban psikologis berat yang diam-diam dipikul: Ceremonial Guilt.

Bukan Cuma Kangen Lawar, Ini Masalah ‘Ceremonial Guilt’

Kalau ditanya kenapa ngotot pulang, alasan yang sering keluar adalah “kangen suasana banjar” atau “kangen makan lawar buatan Meme”. Padahal, jauh di lubuk hati, ada ketakutan yang lebih absolut.

Di Bali, ketidakhadiran saat Galungan, odalan, atau upacara keluarga besar bukan sekadar absen fisik. Ada dimensi kewajiban ritual sebagai sentana (penerus keluarga) yang terasa tidak bisa diwakilkan.

“Pas lihat status WA Meme lagi nurunin banten sendirian, rasanya ginjal ini kayak ditusuk. Ngerasa jadi anak paling nggak guna.”

Familiar dengan perasaan itu, Ton? Itulah Ceremonial Guilt. Sebuah rasa bersalah yang spesifik secara budaya, di mana absennya fisikmu di bale daja diartikan sebagai kegagalan memenuhi bakti kepada leluhur. Beban ini berlapis: tekanan harga tiket yang mahal, tuntutan kerja/kampus, dan rasa bersalah adat.

Validasi Medis: Psikologi Pulang Kampung

Kita tidak melebih-lebihkan fenomena ini. Beban mental perantau ini punya penjelasan medis.

Merujuk pada pandangan Psikolog dr. Krisna Aji Sp.KJ (seperti yang pernah diulas di Tatkala.co), ada dinamika psikologi pulang kampung yang unik. Bagi masyarakat dengan budaya komunal yang kuat seperti Bali, identitas individu sangat terikat dengan partisipasinya dalam ritual adat.

Ketika seorang perantau Bali tidak bisa menunaikan “kewajiban” tersebut karena terhalang jarak dan biaya, muncul cognitive dissonance—benturan antara apa yang diyakini harus dilakukan (pulang dan ngayah) dengan realita yang memaksa (tiket pesawat 4 juta). Hasilnya? Stres, merasa terisolasi, dan mental breakdown tipis-tipis tiap kali melihat FYP TikTok isinya orang nanding banten.

Realita Ekonomi vs Tekanan Sosial

Mari kita bicara jujur, Wi, Gek. Kadang, rasa bersalah itu bukan murni karena agama, tapi karena tekanan sosial. Takut ditanya keluarga besar, “Kenapa tumben sing mulih?”, atau malas jadi bahan omongan tetangga (pisaga) yang gampang melabeli anak rantau sebagai orang yang “lupa purawakan”.

Tiket pesawat yang mahal sering kali menjadi realita pahit sekaligus ironi. Di satu sisi ia menjadi penghalang, tapi di sisi lain, mari akui, kadang ia menjadi “tameng” yang sah untuk menghindari interogasi toxic khas kumpul keluarga tentang “Kapan nikah?” atau “Kapan beli rumah?”.

Solusi Alternatif: ‘Ngayat’ dan Transfer Pitra Yadnya Abad 21

Jadi, apa yang harus dilakukan perantau Bali saat Galungan ini? Kalau memaksakan diri pulang berarti harus makan mi instan sebulan penuh dan menunggak cicilan, mungkin sudah saatnya kita melihat yadnya dari perspektif yang lebih fleksibel.

Secara teologis Hindu, kita mengenal konsep Ngayat—melakukan persembahyangan dari jarak jauh. Esensi ritual bukan semata-mata soal absensi fisik.

Alih-alih menyiksa diri dengan rasa bersalah, coba ganti framing ini. Uang tiket Rp 4 juta yang batal dibeli itu, transferlah setengahnya ke rekening Meme atau Bapa di kampung. Pesankan mereka: “Meme, uangnya pakai beli banten jadi saja ya, biar nggak capek begadang.”

Bukankah meringankan beban fisik orang tua di masa tuanya adalah bentuk Pitra Yadnya yang paling advanced dan masuk akal di abad modern ini?

Tarik napas, Khe nggak sendirian. Kalau Galungan ini cuma bisa ngayat dari kosan yang sempit, leluhur pasti memaklumi. Mereka lebih tahu kalau harga tiket pesawat sedang tidak masuk akal. Selamat menyambut Galungan, jangan lupa matikan notifikasi grup WA keluarga kalau sudah mulai bikin sesak napas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *