ORASI

Dilema Gen Z Bali: Suka Makan Lawar, Tapi Bikin Bumbu Base Genep Aja Nggak Tahu!

Tiap Penampahan Galungan datang, timeline IG pasti mendadak penuh dengan foto estetik dapur berasap, babi guling, dan orang sibuk ngelawar. Mulai dari anak-anak gaul di Denpasar dan Ubud, sampai ke pelosok Gianyar dan Tabanan yang jadi satu aglomerasi pergerakan selatan, tradisinya sama: semua sibuk mempersiapkan hari raya.

Tapi mari kita jujur sebentar, Ton. Banyak anak muda Bali masih menikmati kuliner Galungan, tapi pengetahuan dapurnya mulai tidak otomatis diwariskan. Sehari sebelum Galungan, masyarakat Bali mengenal Penampahan Galungan, yang sering diisi dengan aktivitas mengolah daging dan membuat makanan seperti lawar, sate, tum, kuah balung, dan olahan lainnya.

Kita semua tahu sate lilit itu wajib, dan lawar itu rasanya enak. Tapi giliran ditanya, “Isi bumbu base genep itu apa aja sih, Wi?” Tiba-tiba otak langsung error berjamaah.

Kasta Gen Z di Dapur Penampahan

Dulu, dapur Penampahan adalah tempat anak muda belajar secara natural. Nggak ada sertifikat, nggak ada tutorial YouTube. Belajarnya murni dari disuruh nyemuh kelapa, bantu metanding bahan, ngaduk lawar, sampai dimarahin gara-gara salah iris daging. Tradisi ngelawar di rumah masing-masing keluarga juga disebut berlangsung turun-temurun.

Sekarang? Realitanya agak menampar ego. Sekarang, sebagian Gen Z tetap hadir di dapur, tapi perannya bisa bergeser. Alih-alih pegang pisau, peran tertingginya mentok di:

  • Dokumentasi story.
  • Beli es.
  • Jaga playlist.
  • Ambil pesanan daging.
  • Jadi “tim cicip”.
  • Pulang saat bagian beres-beres.

Bangga jadi orang Bali itu gampang, Gek. Tapi Galungan bukan cuma soal makan. Tapi juga soal transfer skill budaya.

Base Genep: Rahasia Dapur yang Cuma Dihafal Dadong

Dalam literatur pangan, base genep disebut sebagai bumbu dasar kuliner tradisional Bali yang punya cita rasa khas. Isinya bukan cuma sekadar nyampur rempah sisa. Salah satu sumber menjelaskan bahwa bumbu inti dalam masakan Bali disebut basa genep atau basa gede, dengan empat unsur pokok: isen/lengkuas, kunir/kunyit, jae/jahe, dan cakur/kencur. Lalu ditambah bahan lain seperti bawang merah, bawang putih, cabai, garam, terasi, dan rempah-rempah lain.

Lebih gilanya lagi, bumbu tradisional yang biasa diulek sama bapak atau dadong di rumah ini ternyata bukan kaleng-kaleng. Penelitian tentang enkapsulasi ekstrak bumbu genep menunjukkan bahwa bumbu genep secara ilmiah diperlakukan sebagai bahan pangan yang punya karakteristik, kualitas, dan daya simpan yang bisa diteliti. Bahkan, artikel Jurnal Agrisa tahun 2023 membahas ekstrak bumbu genep dan perlakuan teknologi pangan untuk menjaga karakteristiknya.

Ini artinya, bumbu dapur keluarga lu itu levelnya udah sains, Ton!

Jangan Sampai “Arsip Rasa” Keluarga Hilang

Masalahnya begini, Khe mungkin tiap tahun masih pulang buat ikut Galungan. Tapi, kalau prosesnya tidak ikut dipelajari, rasa bisa tetap hidup, tapi ilmunya pelan-pelan hilang.

Setiap keluarga bisa punya rasa yang beda. Dan rasa itu sering tidak tertulis. Orang-orang tua di rumah kita—bapak, meme, dadong—mereka adalah arsip memori yang hidup. Kita sering bilang kangen lawar rumah. Tapi kalau orang yang biasa bikin sudah nggak ada, siapa yang bisa bikin rasa itu balik lagi?.

Jadi, Galungan kali ini kurang-kurangin scrolling TikTok pas orang tua lagi sibuk di dapur. Coba tanya di rumah, “Base lawar keluarga kita isinya apa aja?” Siapa tahu lu akhirnya sadar bedanya lengkuas sama jahe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *