Ton, pernah nggak sih Khe ngerasa di-gaslight sama algoritma sosmed? Lagi asyik scroll FYP cari rekomendasi kopi di Denpasar, eh tiba-tiba lewat konten yang narasi utamanya nyerang Bali.
“Bali sekarang rasis.” “Bali eksklusif dan intoleran sama pendatang.”
Tuduhan-tuduhan begini rasanya udah jadi gorengan tahunan. Padahal, yang ngetik komen mungkin seumur hidup belum pernah napak di Pelabuhan Gilimanuk dan cuma berani speak up pakai akun bodong. Daripada kita adu bacot pakai feeling dan kepancing emosi, mending kita bedah pakai data resmi. Benarkah Bali se-intoleran itu?
Di-Gaslight Sosmed vs Realita Indeks Kerukunan Umat Beragama
Pemerintah, melalui Balitbang Kementerian Agama (Kemenag) RI, rutin merilis data Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB). Ini bukan survei kaleng-kaleng, tapi pemetaan resmi buat ngelihat seberapa rukun, toleran, dan setaranya masyarakat di suatu provinsi.
Coba tebak siapa yang nangkring di posisi teratas?
Berdasarkan rilis terbaru, toleransi di Bali sukses masuk Top 4 Provinsi Paling Rukun se-Indonesia dengan skor 81,77! Kita sejajar sama NTT, Riau, dan Kepulauan Riau.
Fakta di lapangan emang nggak bisa bohong. Di Bali, Pura, Masjid, Gereja, dan Vihara bisa berdiri sebelahan dengan damai. Nggak ada tuh cerita orang ribut-ribut atau acara bubarin ibadah orang lain pakai toa. Dari jaman leluhur, konsep menyama braya (persaudaraan) kita udah jalan secara default.
Terus, Siapa yang Dapet Rapor Merah Toleransi?
Nah, kalau ada Top 10 yang paling rukun, otomatis ada 10 provinsi terbawah yang masyarakatnya dinilai masih eksklusif, punya fanatisme tinggi, dan rawan isu intoleransi.
Kira-kira siapa aja? Khusus buat data 10 provinsi terbawah ini, Mimin sensor aja ya. 🤫
Bukan apa-apa, Mimin masih punya nurani. Takutnya kalau Mimin spill daftar daerah asalnya, nanti ada oknum netizen yang tiba-tiba playing victim atau tantrum massal di kolom komentar. Kasihan kan, Ton. Masa udah indeks toleransinya merah di data Kemenag, dapet stigma negatif pula. Biarlah data itu jadi rahasia kementerian dan mereka yang butuh introspeksi diri. 💅✨
Psikologi “Projecting”: Fenomena Maling Teriak Maling?
Kalau dipikir-pikir pakai ilmu psikologi, fenomena teriak “Bali Rasis” ini kocak banget. Ada sebuah konsep bernama Projecting.
Sederhananya: Seseorang menuduh orang lain melakukan kesalahan yang sebenarnya dia lakukan sendiri di tempat asalnya. Ibarat Khe punya temen yang paling kenceng nyalahin Khe itu egois, padahal aslinya dia sendiri yang red flag parah. 🚩
Ini dark joke yang agak mindblowing: Bayangin aja ada orang teriak-teriak menuduh Bali eksklusif dan intoleran. Padahal, di kampung halamannya sendiri, sekadar mau ngurus izin bangun tempat ibadah minoritas aja susahnya ngalahin nyari sinyal 5G di pedalaman. Komedi macam apa ini?
Sibuk Ngurus Hidup, Gak Sempat Intoleran
Realitanya, Gen Z dan Millennial Bali tuh udah terlalu capek buat mikirin hal-hal rasis. Kita sibuk survive di tengah kemacetan By Pass Ngurah Rai, ngelus dada lihat harga properti yang dimonopoli bule-bule Canggu, dan nyari sisaan ketenangan batin.
Kita nggak ada waktu dan energi buat bersikap rasis sama pendatang yang sama-sama lagi cari makan halal. Di Bali, rules-nya simpel banget: Selama Khe sopan, kita segan. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Coba Cek KTP Masing-Masing
Data Kemenag ini semacam kaca benggala raksasa buat netizen +62. Tingginya skor toleransi di Bali membuktikan bahwa stigma negatif yang sering digoreng itu lebih banyak unsur sakit hatinya ketimbang faktanya.
Jadi, Mimin cuma mau nanya nih sama Gung, Wi, Gek, dan Luh… Kira-kira, akun-akun yang paling kenceng nge-bully Bali di TikTok atau X (Twitter) itu, aslinya dari provinsi Top 10 Toleran, atau malah dari daerah yang datanya barusan Mimin sensor? 🤭
Share artikel ini ke temen Khe yang masih suka kepancing emosi baca komen netizen. Biar mereka tahu, kita nggak perlu marah-marah, cukup kasih senyum sarkas sambil nunjukin data pemerintah.




