ORASI

Baliho “Bali Chose You” dan Realita Gentrifikasi Bali: Warga Lokal Tersingkir, Salah Siapa?

Ton, kalau khe lagi macet-macetan di By Pass pakai motor Supra sambil nelan debu proyek, pernah nggak tiba-tiba ngelihat baliho estetik bertuliskan “You didn’t choose Bali but Bali chose you”?

Buat para turis atau digital nomad yang baru landing dan siap healing, kalimat itu mungkin kerasa romantis banget. Seolah alam semesta punya panitia seleksi spiritual yang menakdirkan mereka buat minum smoothie bowl 80 ribu di Canggu. Tapi buat kita? Kalimat itu adalah tamparan keras dari realita gentrifikasi Bali yang makin hari makin nggak masuk akal.

Mari kita bedah bullshit estetik ini, dan ngaca sebentar. Apakah Bali pelan-pelan sedang mengusir anaknya sendiri?

Estetika “Bali Chose You” vs Gaji UMK yang Bikin Ngilu

Realitanya, yang “memilih” mereka buat datang ke sini bukanlah alam semesta, melainkan nilai tukar Dollar dan Euro ke Rupiah yang lagi wangi-wanginya. Sayangnya, “seleksi spiritual” ini nggak berlaku buat Gung, Wi, Gek, atau Luh yang gajinya numpang lewat doang buat bayar cicilan.

Bayangkan saja, gaji standar UMK disuruh bertarung di arena living cost yang standar bule. Dulu, nyari kos-kosan satu juta sebulan di pusat kota masih gampang. Sekarang? Kos-kosan sederhana itu udah disulap jadi guesthouse harian yang harganya bikin dompet menangis. Akibatnya, banyak pekerja muda lokal yang terpaksa ngekos makin jauh ke pinggiran kota karena nggak sanggup lagi bayar sewa di dekat tempat kerjanya.

Gentrifikasi Bali: Korban Bule atau Keserakahan Sendiri?

Kita emang hobi banget playing victim di media sosial. Tiap ada beach club baru yang caplok sawah, atau bule arogan di jalanan, kita langsung teriak terpingkal-pingkal: “Tanah kita dijajah modal asing!”

Tapi tunggu dulu, Ton. Investor asing dan digital nomad itu memang bawa duit gede. Akan tetapi, mereka nggak bakal bisa bangun deretan vila eksklusif kalau nggak ada warga lokal yang bukain pintu gerbangnya.

Pertanyaannya: Siapa yang dengan senang hati menyewakan tanah leluhur berpuluh-puluh tahun demi cash instan? Jawabannya jelas: saudara kita sendiri.

Jual Tanah Warisan Demi Pajero dan Gengsi

Ini adalah dark jokes paling nyata di sekitar kita. Banyak oknum landlord lokal yang tega mengusir penyewa lokal—termasuk mahasiswa dan pekerja UMK—demi bisa mengubah propertinya jadi penginapan eksklusif turis.

Lebih parah lagi, fenomena jual tanah warisan demi beli SUV macam Pajero atau Fortuner, atau demi bikin upacara megah biar kasta sosial naik, sudah jadi rahasia umum. Tanah warisan cair, gengsi meroket, mobil terparkir gagah (kadang di pinggir jalan karena nggak punya garasi). Namun, mereka lupa bahwa anak-cucunya nanti cuma disuruh gigit jari.

Menjadi Penonton di Tanah Kelahiran Sendiri

Oleh karena itu, menyalahkan bule seratus persen atas gentrifikasi Bali adalah sebuah kemunafikan. Kita adalah panitia seleksinya. Kita yang memasang price tag di setiap jengkal tanah, dan kita sendiri yang menyingkirkan sesama warga lokal dari pusat ekonomi.

Generasi sebelum kita asyik cash out jual sawah demi gaya hidup. Sementara itu, generasi muda sekarang harus menanggung beban tinggal di daerah pelosok dan nyicil rumah susidi yang jarak tempuhnya bikin encok. Kita yang jual tanahnya, kita juga yang nanti numpang neduh di emperan vilanya.

Akankah Bali Hanya Memilih “Orang Luar”?

Jadi, baliho “Bali Chose You” itu sebenarnya tidak salah. Bali memang memilih mereka yang punya saldo rekening tebal, karena kita sendiri yang membuat aturannya seperti itu.

Jika siklus jual-warisan-demi-gengsi dan keserakahan ini terus dilestarikan, mari kita renungkan satu pertanyaan pahit ini: Apakah suatu hari nanti, Bali HANYA akan memilih orang-orang yang justru BUKAN orang Bali?

Coba pikirin itu sambil makan nasi jinggo, Ton. Jangan lupa share artikel ini ke temen-temen tongkrongan khe, biar kita bisa ngaca bareng-bareng hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *