Arena tajen di Bali selalu identik dengan sorak-sorai. Di sana, taruhan diputuskan dengan cepat, ayam jago disiapkan dengan presisi, dan puluhan laki-laki berkumpul membawa ambisi. Namun, saat debu arena sudah turun dan keramaian bubar, ada realitas sunyi yang jarang dibicarakan.
Siapa yang sebenarnya menanggung beban saat kekalahan terjadi? Jawabannya sering kali mengarah pada sosok yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di arena tersebut: perempuan Bali.
Mengulik ekologi tersembunyi di balik tradisi sabung ayam ini bukanlah upaya untuk menghakimi. Sebaliknya, ini adalah langkah untuk memahami lapisan sosial yang selama ini tertutup oleh ego dan euforia kemenangan.
Batas Tipis Antara Ritual dan Taruhan Liar
Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus meluruskan satu kesalahpahaman mendasar. Banyak yang berlindung di balik tameng tradisi tanpa memahami perbedaan esensial antara ritual suci dan aktivitas profan.
Dalam tradisi Hindu Bali, terdapat ritual sah yang disebut Tabuh Rah. Ritual ini merupakan bagian dari Bhuta Yajna dan dilaksanakan dengan aturan ketat: hanya boleh digelar sebanyak 3 saet (putaran) dan tanpa melibatkan taruhan uang besar. Di sisi lain, tajen adalah bentuk penyimpangan dari Tabuh Rah. Di dalam arena tajen, nilai taruhan (toh) tidak memiliki batasan dan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Parisadha Hindu Dharma Pusat (PHDP) pada tahun 1985 bahkan telah menegaskan bahwa tidak ada bentuk taruhan apa pun dalam Tabuh Rah yang benar. Oleh karena itu, menyebut judi sabung ayam sebagai “pelestarian budaya” murni sering kali hanya menjadi pembenaran atas candu adrenalin.
Konstruksi Kuasa di Atas Arena
Bagaimana sebenarnya posisi laki-laki dan perempuan dalam pusaran sabung ayam ini? Sebuah penelitian dari Jurnal Kajian Bali (Universitas Udayana, 2017) oleh I Wayan Artika mencoba menjawabnya melalui kritik sastra feminis.
Dengan membedah representasi sastra pada dua cerpen lokal tentang sabung ayam, penelitian ini menemukan konstelasi dinamika yang timpang. Dalam ekosistem yang dikaji peneliti tersebut, dunia tajen menempatkan laki-laki atau bebotoh dengan obsesi kemenangan yang mengalahkan kepentingan keluarga, istri, maupun anak. Lebih jauh lagi, dalam dunia tajen, laki-laki direpresentasikan memiliki kekuasaan absolut atas perempuan Bali.
Meskipun temuan ini berasal dari cermin karya fiksi, sastra sering kali menjadi refleksi paling jujur dari kondisi riil masyarakat.
Dampak Ekonomi: Masa Depan yang Tergadai
Dampak paling nyata dari tajen tidak berhenti pada tataran teori, melainkan menghantam langsung dapur dan masa depan keluarga. Harapan bebotoh untuk membawa pulang uang kemenangan sering kali lebih menjadi rasionalisasi psikologis daripada realitas ekonomi.
Menurut catatan yang dikutip dalam penelitian akademis di Daiwi Widya Jurnal Pendidikan (2024), keluarga bebotoh adalah pihak yang paling merasakan dampak kekalahan tajen. Saat dorongan bertaruh memuncak, segala harta benda rawan habis dipertaruhkan di dalam arena tajen.
Konsekuensinya sangat fatal. Jendra (1995) mencatat bahwa tidak jarang anak bebotoh yang masih bersekolah terpaksa harus berhenti sekolah akibat himpitan kemelaratan ini. Ini adalah potret buram di mana pendidikan generasi muda dikorbankan demi sebilah taji.
Menyuarakan yang Tak Terdengar
Perempuan tidak ada di arena. Mereka tidak ikut menentukan nominal taruhan atau merawat ayam jago. Tapi, ketika sang suami pulang membawa kekalahan dan tagihan, merekalah yang harus memutar otak memastikan meja makan tidak kosong.
Membuka mata terhadap kerentanan ekonomi keluarga di balik tajen di Bali bukanlah sebuah pengkhianatan terhadap akar budaya. Justru, membicarakan hal ini secara terbuka adalah bentuk cinta yang paling rasional untuk menjaga keseimbangan rumah tangga dan masa depan generasi penerus di Pulau Dewata.




