ORASI

Ironi Tanah Vulkanik Bali: Dikasih Sawah Subur, Malah Disemen Jadi Villa

Pernah nggak sih Khe mikir pas lagi makan nasi jinggo di pinggir jalan, “Ini berasnya dari mana, ya?” Jawabannya sering kali: dari luar pulau. Padahal, kita ini hidup di atas tanah vulkanik Bali yang suburnya nggak ngotak. Masuk akal? Jelas nggak.

Ini plot twist paling lucu di pulau kita. Punya tanah salah satu yang paling subur di dunia , tapi kita malah keranjingan impor bahan pangan.

Tanah Vulkanik Bali: Cheat Code Geologi dari Alam

Coba dengerin bentar, Ton. Bali ini diberkahi empat gunung berapi. Selama ribuan tahun, gunung-gunung itu meledak dan ngasih kita abu vulkanik gratis . Abunya itu penuh kalium, fosfor, sama silika persis yang dibutuhin tanaman buat tumbuh subur.

Zaman leluhur kita, sawah subak bisa panen melimpah tanpa perlu disuntik pupuk kimia. Bukan karena mereka pelit beli pupuk , tapi karena Gunung Batur udah otomatis nyuplai pupuk alami ke tanah kita . Ini namanya cheat code geologi, bukan magic.

Sawahnya Disemen, Berubah Jadi Villa Estetik

Satu pulau, empat gunung, dan hasilnya ngeri. Kita punya Kopi Arabika Kintamani yang diekspor sampai ke Jepang, bahkan dapet sertifikat Indikasi Geografis resmi pertama di Indonesia .

Tapi apa balasan kita ke alam? Bukannya dijaga, tiap tahun ada 1.254 hektar lahan hijau di Bali yang berubah wujud jadi beton.

Dari tahun 2019 sampai 2024 aja, sawah di Bali lenyap 6.521 hektar. Di Denpasar lebih parah lagi, lahan sawahnya nyungsep 38% cuma dalam 6 tahun. Sawahnya nggak ngilang ke dimensi lain, tapi dipelur jadi villa, hotel, dan kolam renang estetik.

Loker Housekeeping Lebih Menggoda daripada Kebun

Generasi pemuda sekarang, dari Wi sampai Gek lebih milih nyari loker jadi tour guide, resepsionis, atau driver online di Selatan .

Nggak bisa nyalahin juga, sih. Nungguin gaji UMR dari pariwisata emang lebih pasti daripada nungguin panen yang harganya gampang dimainin tengkulak. Tapi yang jadi pertanyaan dark-nya: siapa yang mau jaga kebun setelah generasi bapak kita pensiun ?

Lingkaran Setan Pariwisata Kita

Ini komedi putar paling epik abad ini. Wisatawan datang jauh-jauh ke Bali karena pengen lihat hamparan sawah. Tapi, sawah itu malah kita jual buat ngebangun hotel. Hotelnya buat siapa? Ya buat wisatawan yang mau foto-foto berlatar sawah tadi.

Asal Khe tau, tanah vulkanik itu cuma ada 1% di daratan bumi, tapi bisa menghidupi 10% populasi manusia sedunia . Bali punya privilege tanah se-elit itu. Dan dengan pedenya, kita malah nutupin tanah itu pake semen.

Leluhur kita capek-capek bangun subak biar panen lestari. Kita sekarang malah sibuk mikirin passive income dari sewa guesthouse.

Jadi, gimana Ton? Tanah warisan ini mending dijagain biar kita nggak makan beras impor terus, atau mending dicairin aja buat DP mobil baru?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *