ORASI

“Kapan Punya Anak?”: Kenapa Basa-Basi Keluarga di Bali Bisa Jadi Toxic

Ton, mari kita bicara jujur. Di Bali, menikah itu kelihatannya indah banget. Baju adat megah, resepsi meriah, dan senyum lebar di mana-mana. Sayangnya, ada satu plot twist yang jarang dibahas sebelum janur kuning melengkung. Setelah khe resmi menikah, privasi khe mendadak berubah jadi milik publik, terutama urusan rahim.

Tiap kali ada odalan, metatah, Galungan, atau sekadar mebat di banjar, pasti ada satu atau dua orang yang melempar pertanyaan sakti: “Kapan punya anak?”

Buat sebagian orang tua, ini mungkin cuma basa-basi sepele. Namun, buat pasangan yang sedang berjuang—para pejuang garis 2—pertanyaan “kapan punya anak” ini lebih mirip sidang skripsi yang diulang-ulang. Mari kita bedah kenapa tradisi basa-basi ini perlu pelan-pelan kita kurangi.

Rahimmu Adalah Urusan Banjar

Dalam struktur komunal Bali, kehidupan personal itu rasanya hampir tidak ada. Khe hidup berdampingan erat dengan keluarga besar, banjar, dadia, hingga desa adat. Artinya, apa yang terjadi di dalam kamar tidurmu, sering kali jadi bahan obrolan di balai banjar.

Pertanyaan seperti “Sing program?” atau “Jangan karier terus, nanti telat,” sering dianggap sebagai bentuk keakraban. Masalahnya, niat baik dari si penanya sering kali tidak sejalan dengan apa yang dirasakan oleh penerima pertanyaan.

Yang membuat lelah mental bukan sekadar satu pertanyaan, melainkan pengulangan sosialnya yang terjadi puluhan kali di berbagai acara. Khe harus siap sedia template jawaban sambil terus menjaga senyum kaku agar tidak dibilang baperan.

Bias Gender: Kenapa Selalu “Gek” yang Disidang?

Coba perhatikan baik-baik. Ketika sebuah pasangan telat memiliki keturunan, siapa yang pertama kali disuruh minum jamu, disuruh pijat, atau disindir terlalu sibuk kerja? Hampir selalu pihak perempuan.

Kemenkes RI secara resmi mencatat bahwa perempuan sering menjadi pihak yang paling dirugikan dalam isu infertilitas, karena masyarakat cenderung langsung menganggap perempuan sebagai penyebab utamanya. Padahal, secara realita medis, infertilitas bukan cuma urusan istri. Faktor penyebab susah hamil bisa berasal dari perempuan, laki-laki, gabungan keduanya, atau bahkan belum diketahui secara pasti.

Anehnya, sangat jarang ada yang berani mencecar si suami dengan pertanyaan tajam. Padahal, bisa saja masalahnya ada pada kebiasaan begadang atau pola hidup si Bli. Tapi, di mata sosial kita, perempuanlah yang sering dijadikan sasaran tembak basa-basi ini.

“Nak Biasa Gen” yang Bikin Kena Mental

Banyak yang membela diri dengan dalih, “Nak biasa gen nanya keto” (Biasa saja nanya begitu). Tapi faktanya, omongan kecil ini bisa membawa dampak psikologis yang masif.

WHO bahkan menempatkan infertilitas sebagai isu kesehatan yang berdampak serius pada stigma sosial dan relasi pasangan. Lebih parah lagi, kajian ilmiah membuktikan bahwa stigma terkait infertilitas ini dapat membawa tekanan mental dan beban psikologis yang berat, serta menurunkan kualitas hidup, khususnya pada perempuan.

Pasangan yang belum memiliki anak sering merasa posisinya dipertanyakan, takut dianggap kurang lengkap, hingga merasa malu karena tubuhnya seolah “gagal” memenuhi ekspektasi sosial sebagai penerus keluarga.

Punya Anak Bukan Lomba Lari Karung

Kesimpulannya begini, Ton. Kita memang lahir dan besar di budaya komunal yang hangat. Namun, kita harus mulai belajar membedakan mana bentuk kepedulian yang nyata, dan mana sekadar rasa penasaran yang melanggar batas privasi.

Punya anak itu bukan lomba cepat-cepatan setelah resepsi pernikahan. Kalau khe bertemu kerabat yang belum memiliki anak, tahan lidahmu dari pertanyaan “kapan punya anak”.

Sebagai gantinya, khe bisa sekadar mendoakan mereka diam-diam, atau ucapkan doa standar yang jauh lebih aman: “Semoga sehat-sehat selalu, ya.” Karena di balik senyum tenang seseorang di acara adat, mungkin ada perjuangan sunyi yang sedang mereka hadapi mati-matian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *