Coba cek kalender kegiatan banjar Khe sekarang, Ton. Dari semua agenda yang ada, berapa persen yang murni ngayah (kerja gotong royong tulus), dan berapa persen yang judulnya “penggalangan dana” tapi ujung-ujungnya berubah jadi ajang hiburan malam pakai DJ dan alkohol? Makin ke sini, realita kegiatan STT Bali (Sekaa Teruna Teruni) seolah bikin batas antara Bale Banjar dan beach club di Canggu makin tipis.
Kita semua tahu, bikin bazaar buat cari dana operasional itu sah-sah saja. Tapi, ketika institusi sesakral banjar mulai menormalisasi party culture di bawah payung “sosialisasi”, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini evolusi budaya, atau sekadar kepanikan massal demi ngejar target engagement warga?
Tri Hita Karana yang Bergeser Jadi Tri Hita Party
Kalau ditarik ke sejarah abad IX hingga XI, banjar dibangun sebagai institusi komunal sakral yang mengatur tiga pilar Tri Hita Karana: Parhyangan (ritual keagamaan), Pawongan (sosial antarwarga), dan Palemahan (lingkungan).
Sayangnya, pemahaman sejarah ini sepertinya mulai absen di beberapa tongkrongan STT Bali. Acara yang seharusnya memperkuat Pawongan, kini sering kali bergeser menjadi sarana hiburan malam. Ironisnya, normalisasi konsumsi alkohol di area balai banjar ini kadang melibatkan anak-anak di bawah umur, yang jelas-jelas menabrak UU Perlindungan Anak No. 35/2014.
Bukannya kita anti-senang-senang, Ton. Tapi, rasanya agak mindblowing melihat sistem adat dipakai untuk menekan anggota agar hadir ke acara yang bertentangan dengan esensi adat itu sendiri.
Cancel Culture Kearifan Lokal: Awig-Awig Era Baru?
Di sinilah letak plot twist paling dark. Banjar memiliki awig-awig (hukum adat tertulis) yang mengatur kehidupan warganya. Sanksi terberatnya cukup mengerikan, salah satunya kasepekang atau pengucilan sosial (tidak disapa warga hingga dilarang menggunakan bale banjar).
Sekarang, bayangkan sistem perlindungan komunitas yang tegas ini berevolusi menjadi cancel culture kearifan lokal. Kalau Khe nggak datang buat ngayah, mungkin cuma digosipin sedikit. Tapi coba saja Khe berani absen saat banjar lagi buka botol bareng DJ. Siap-siap saja dicap “nggak solider” atau dikucilkan dari pergaulan STT Bali setempat.
Banyak Gen Z Bali akhirnya terpaksa datang ke acara party tersebut bukan karena peduli atau ingin berdonasi, melainkan murni mode survival agar terhindar dari sanksi sosial. Kita seperti disandera oleh komunitas kita sendiri.
Kawan Banjar: Bukti Gen Z Bali Nggak Cuma Jago Buka Botol
Namun, di tengah krisis identitas ini, ternyata masih ada harapan. Tidak semua STT Bali sibuk mencari pembenaran untuk party legal berkedok adat.
Sebuah inisiatif independen bernama Kawan Banjar baru-baru ini muncul memberikan tamparan keras. Digagas oleh I Wayan Adi Wikantara (Adi Wikan) dari Bali Next Gen, program ini bukan kompetisi adu kuat minum, melainkan kompetisi trivia (cerdas cermat) antar-STT se-Bali.
Di arena Kawan Banjar, anak muda adu wawasan budaya Bali, adu strategi, dan kekompakan lintas banjar yang dikemas dalam format pop-culture kekinian. Menurut Adi Wikan, ini adalah inkubator ide untuk membuktikan bahwa generasi kita itu dinamis, cerdas, dan sangat suportif.
Kesimpulan: Khe Pilih Arena yang Mana?
Kawan Banjar adalah bukti hidup bahwa interaksi lintas-banjar antar-STT Bali bisa dilakukan secara elegan dan intelektual, tanpa harus merepotkan desa adat atau mengandalkan jualan botol.
Jadi, pilihannya ada di tangan Khe. Apakah kita akan terus mewariskan banjar sebagai panitia hiburan malam terselubung bermodalkan ancaman cancel culture, atau berani membuktikan isi kepala di arena cerdas cermat?
Coba share artikel ini ke grup WhatsApp banjar Khe, Ton. Mari kita lihat, apakah teman-teman STT Khe punya nyali buat adu otak di Kawan Banjar, atau cuma berani adu outfit pas bazaar di banjar sebelah!




