ORASI

Bakar Sampah di Denpasar: Ilusi Harmoni dan Alasan Kita Milih Lapor Anonim via PRO Denpasar

Khe pasti punya satu tetangga di komplek yang hobinya bikin fogging jalur mandiri tiap sore. Bau plastik kebakar nyampur sama sisa makanan basi, sukses bikin jemuran bau sangit dan paru-paru berasa difilter knalpot.

Masalah bakar sampah di Denpasar memang bukan isu baru. Tapi yang menarik bukan soal seberapa pekat asapnya, Ton. Yang menarik adalah cara kita—generasi muda yang katanya paling vokal dan kritis di internet—menghadapi si tetangga ini.

Alih-alih bawa seember air atau sekadar ngomong baik-baik, kita lebih milih buka smartphone, foto dari balik jendela, dan lapor PRO Denpasar dengan centang fitur “Anonim”.

Kok bisa kita seberani itu di Threads, tapi kicep di dunia nyata?

Ilusi Harmoni Bertetangga di Bali

Ada satu bias kognitif yang sering nggak kita sadari. Kita merasa diri kita adalah warga yang peduli lingkungan. Kenyataannya, kita lebih peduli pada kenyamanan sosial dan ilusi “harmoni”.

Di Bali, ada ketakutan kolektif untuk dicap sing ngenah (tidak etis) atau dibilang sing bise menyama braya (tidak bisa bersosialisasi). Menegur tetangga secara langsung—meskipun posisi kita benar karena asapnya masuk ke ruang tamu—dianggap sebagai tindakan konfrontatif yang bisa merusak vibes bertetangga.

Akhirnya, terciptalah skenario sinetron yang epik: Depan pagar pas papasan, kita senyum manis nanya, “Wih, bersih-bersih niki, Pak?”. Begitu masuk kamar, kita langsung submit titik koordinat asapnya ke server kelurahan. Depan ramah, belakang cepu.

Kenapa Lapor PRO Denpasar Anonim Jadi Jalan Ninja?

Sistem pengaduan masyarakat yang terdigitalisasi sebenarnya adalah kemajuan smart city yang patut diapresiasi. Tapi mari kita jujur, buat sebagian besar anak muda, aplikasi ini berfungsi sebagai fasilitas resmi untuk menghindari konfrontasi.

Berikut alasan kenapa fitur anonim ini laku keras:

1. Cancel Culture Nggak Berlaku di Banjar

Kalau ada orang bikin ulah di X (Twitter) atau Instagram, kita bisa dengan mudah me-roasting atau cancel mereka berjamaah. Tapi di kehidupan nyata? Memusuhi tetangga sebelah rumah sama dengan bunuh diri sosial. Kita butuh mereka kalau ada apa-apa, atau minimal, kita nggak mau jadi bahan gosip di warung kopi banjar.

2. Membeli Kedamaian dengan Menjadi Pengecut

Dengan lapor PRO Denpasar, kita memindahkan tanggung jawab komunikasi kita ke pundak aparat. Biar Satpol PP, Linmas, atau Kaling yang jadi bad cop-nya. Kita tetap bisa cosplay jadi tetangga yang baik hati dan tidak sombong. Kita membeli kedamaian sosial dan paru-paru bersih, dengan harga menjadi sedikit pengecut.

Aplikasi Pelaporan: Solusi atau Pelarian?

Laporan via aplikasi memang sering terbukti efektif. Petugas desa biasanya cukup responsif turun ke lapangan dan memberikan teguran lisan. Api mati, asap hilang.

Tapi apakah masalahnya selesai? Tentu tidak. Selama akar masalahnya (seperti TPA yang sering overload atau keterlambatan truk sampah) tidak beres, aksi bakar-bakar ini cuma nunggu timer buat terulang lagi. Aplikasi pelaporan sering kali menjadi tameng yang menutupi fakta bahwa sistem manajemen sampah kita sedang ngos-ngosan, dan komunikasi antar warga kita sedang krisis.

Kesimpulan: Paru-Paru Aman, Nyali Ketinggalan

Tidak ada yang salah dengan memanfaatkan fasilitas pemerintah untuk melaporkan oknum yang bakar sampah sembarangan. Sistemnya memang dibuat untuk itu.

Hanya saja, fenomena ini jadi cermin ironis buat generasi kita. Kita adalah generasi yang berani berdebat politik dengan orang asing di internet, tapi nyalinya langsung ciut saat disuruh menegur tetangga sebelah rumah yang bakar pampers.

Jadi, Ton, buat Khe yang sore ini lagi pura-pura asma dalam diam, pilihannya cuma dua: Beranikan diri buat ngobrol langsung layaknya manusia dewasa, atau nikmati posisi Khe sebagai “cepu anonim” berkedok warga ramah. Keduanya valid, tapi setidaknya, jangan munafik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *