ORASI

Anjing Betina Dibuang di Bali: Salah Induknya atau Owner yang FOMO?

Sering nggak sih, Khe lagi asyik scroll media sosial, tiba-tiba algoritma nyodorin video rescue anak anjing yang dibuang di dalam kardus pinggir jalan? Kasus anjing betina dibuang di Bali beserta anak-anaknya seakan jadi tontonan sedih mingguan yang nggak ada habisnya.

Banyak netizen yang cuma bisa ngetik “kasihan” atau “semoga dapet karma”. Tapi, Ton, kalau kita mau jujur dan pakai logika dikit, masalah ini akarnya dari mana sih? Apakah murni karena populasi anjing yang meledak, atau karena sifat manusia yang pengen enaknya doang?

Mari kita bongkar realita puppy dumping di Bali, khusus buat Khe yang masih mikir pelihara anjing itu cuma sekadar buat bahan update status.

Kenapa Selalu Anjing Betina yang Jadi Korban?

Kalau kita lihat ke lapangan, yang paling sering berujung di jalanan atau shelter adalah anjing betina dan anak-anaknya. Berdasarkan sebuah studi demografi tentang populasi anjing di Bali, tercatat bahwa sekitar 70% anjing yang dipelihara di rumah (owned dogs) adalah jantan.

Artinya, ada indikasi kuat bahwa anjing jantan jauh lebih dipilih oleh masyarakat. Alasannya klasik: jantan nggak bakal hamil, nggak mens, dan dianggap lebih praktis.

Sementara itu, anjing betina seolah punya “risiko tambahan” karena bisa mengandung dan melahirkan. Ujung-ujungnya, ketika sang induk hamil di luar rencana karena dibiarkan keliaran, anak-anak anjing yang lahir malah dianggap sebagai beban hidup baru bagi pemiliknya.

Realita Pahit: Sanggup Gaya, Tapi “Miskin” Tanggung Jawab

Di sinilah letak ironi terbesar para pet owner red flag di Bali. Banyak yang berani adopsi atau beli anjing, tapi begitu disarankan untuk melakukan sterilisasi, alasannya seragam: “Mahal, Bli!”

Padahal, BAWA Bali secara tegas menyebutkan bahwa overpopulasi ini berujung pada banyak penderitaan: mulai dari puppy dumping, penelantaran, penyakit, hingga shelter yang kewalahan.

Lucunya, kalau kita perhatikan gaya hidup sebagian orang zaman sekarang, mereka sanggup nyicil iPhone 16 Pro atau nge-build ekosistem gadget sampai pakai iPad Air terbaru buat flexing di story, tapi giliran disuruh bawa anjingnya ke klinik buat steril, mendadak pura-pura jadi masyarakat prasejahtera. Prioritasnya emang agak lain, Ton.

Solusi Biar Nggak Jadi Beban Shelter

Sterilisasi adalah salah satu cara paling rasional untuk memutus siklus kelahiran anak anjing yang tidak diinginkan. Tapi, kalau memang budget lagi benar-benar krisis dan belum ada program steril subsidi dari banjar, solusi paling minimal adalah mengurung dan menjaga anjing betina saat masa berahi (loop).

Sayangnya, opsi menjaga ini sering diremehkan. Pemilik malas membersihkan darah di lantai dan nggak tahan dengar anjingnya berisik minta keluar. Akhirnya, dilepasliarkan lagi, hamil lagi, dan dibuang lagi.

Kesimpulannya, Ton, anjing betina bukan dibuang karena mereka pembawa sial. Sebagian besar anjing betina dibuang di Bali karena manusianya yang gagal paham soal esensi tanggung jawab. Jadi, sebelum memutuskan pelihara nyawa, pastikan isi dompet dan mental Khe udah lebih besar dari ego lu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *