ORASI

Rajin Melukat, Kerja Keras, Tapi Kok Karir Pariwisata Bali Khe Mentok Jadi Bawahan Bule?

Pariwisata Bali itu ibarat pesta pora yang nggak pernah sepi. Coba saja jalan ke Canggu, Seminyak, atau Uluwatu. Semua orang bilang peluang kerja di sini tumpah ruah. Buka lowongan hari ini, besok CV numpuk. Tapi, mari kita bicara jujur, Ton. Dari sekian banyak lowongan itu, berapa banyak yang ngasi khe kursi empuk di ruang AC sebagai pengambil keputusan?

Paradoks Karir Pariwisata Bali: Tuan Rumah di Level Supervisor

Memang benar lowongannya buanyak. Kalau khe mau jadi housekeeping, pelayan restoran, kasir, atau front desk, pintu selalu terbuka lebar. Tapi giliran khe, atau Wi, atau Gek mau naik ke kursi manajerial? Tiba-tiba pintunya dikunci rapat. Entah kuncinya disembunyikan di mana, yang pasti bukan di Bali.

Berdasarkan data (dan keluhan orang dalam), pariwisata menyumbang lebih dari separuh ekonomi Bali. Tapi coba cek kursi General Manager (GM) di hotel-hotel bintang lima Badung. Berapa jatah buat orang lokal? Cuma sekitar 35%. Sisanya? Impor dari luar. Kita jadi tuan rumah yang ramah, senyum paling manis, tapi pas urusan cuan dan jabatan tinggi, kita disuruh minggir.

“Tugas kita cuma jadi tuan rumah yang ramah: senyum, buka pintu, lalu minggir.”

Mitos Kurang “Established” vs Realita Sistem Chain Internasional

Di Hotelier Summit 2019, masalah ini sempat tumpah ruah dibahas oleh praktisi pariwisata sendiri. Alasan klasik yang sering dipakai bos-bos besar (terutama jaringan hotel internasional) adalah SDM lokal dianggap kurang “established”. Bahasa halusnya: “Khe belum levelnya, Ton.”

Tapi apakah murni karena kita kurang pinter? Enggak juga. Ini soal sistem industri pariwisata Bali yang memang didesain secara global. Chain internasional sering kali memprioritaskan kandidat yang punya pengalaman cross-country. Bos bule yang datang ke Bali itu biasanya udah pernah jadi manajer di Dubai, Maldives, atau Eropa. Sementara kita? Karir pariwisata Bali kita sering kali cuma muter dari Nusa Dua ke Ubud, lalu balik lagi ke Kuta.

Sistem ini yang bikin langit-langit kaca (glass ceiling) buat pekerja lokal sangat tebal. Khe bisa rajin melukat tiap purnama, lembur sampai asam lambung naik, tapi kalau CV khe nggak punya cap “pengalaman internasional”, khe bakal susah nembus posisi puncak. Standar mainnya sudah global, tapi kita masih pakai mindset lokal.

Gen Z Bali Mulai Gerah: Merantau atau Pasrah?

Pantas saja anak muda Bali, terutama Gen Z dan milenial yang masuk umur 30-an, mulai gerah. Buat apa loyal bertahun-tahun kalau cuma mentok di middle management? Banyak yang akhirnya milih packing dan merantau.

Ada yang kerja di kapal pesiar, ada yang terbang ke luar negeri, ada yang nekat pindah industri. Mereka sadar, buat diakui di rumah sendiri, kadang mereka harus pergi jauh dulu nyari “validasi”. Merantau bukan lagi bentuk kepasrahan, tapi justru taktik paling logis buat merebut kembali kursi kepemimpinan yang selama ini dikuasai ekspatriat.

Mari Ribut

Pariwisata meroket, tapi karir khe jalan di tempat. Kita harus mulai kritis mempertanyakan: apakah kurikulum pendidikan dan mentalitas kita yang kurang upgrade, atau sistemnya yang emang perlu kita hack? Kalau khe cuma mau santai dan pasrah jadi “supporting cast”, ya silakan. Tapi kalau khe ngerasa pantas dapet lebih…

Khe mau lanjut ngarep ada mukjizat diangkat jadi bos di rumah sendiri, atau packing cari pengalaman di kolam luar buat nanti pulang jadi GM? Drop opini khe di komen, mari kita ribut (secara sehat) soal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *