ORASI

Ke Mana Larinya Uang Pariwisata Bali? Fakta Nyesek di Balik Devisa Rp107 Triliun

Pemerintah kita rajin banget flexing di media. Katanya, di tahun 2024, Bali sukses nyumbang devisa buat negara sampai Rp107 Triliun. Angkanya fantastis, bikin dada membusung bangga.

Tapi, coba Khe cek mutasi rekening hari ini. Apakah saldonya bertambah seiring meledaknya jumlah turis? Atau malah cuma cukup buat beli nasi jinggo dua bungkus di pinggir Bypass?

Banyak masyarakat kita yang mengira, uang pariwisata Bali dari bule-bule itu otomatis masuk ke kas daerah dan dipakai buat ngebangun Bali. Padahal, realitanya nggak seindah feed Instagram travel blogger. Mari kita bongkar ke mana larinya triliunan duit itu, Ton.

Mitos Uang Pariwisata Langsung Balik ke Bali

Narasi yang sering beredar di warung kopi: “Pusat pelit, Bali nggak dikasih jatah Dana Bagi Hasil (DBH)!”

Faktanya, emang begitu aturannya. Sistem bagi hasil di negara ini cuma dirancang buat daerah yang ngeruk bumi. Daerah penghasil tambang, migas, atau yang nebang hutan, itu yang dapat porsi gede.

Terus, daerah yang jualan view sunset, budaya, dan senyum ramah Bli dan Gek di lobi hotel dapat apa? Nol besar. Sistem birokrasi kita buta sama yang namanya devisa jasa.

Dihukum Karena Terlalu “Sukses”

Nah, ini plot twist yang lebih dark.

Pemerintah pusat punya dana pemerataan yang namanya DAU (Dana Alokasi Umum). Logikanya, dana ini buat ngebantu daerah. Tapi rumusnya kocak: makin daerah kelihatan kaya secara PDRB, makin dipotong jatah bantuannya.

Karena pariwisata kita meledak, di atas kertas ekonomi Bali kelihatan raksasa. Efeknya? Jatah bantuan pusat ke Bali malah makin kecil karena kita dianggap udah “mandiri”. Kita dihukum oleh pusat justru karena kita terlalu sukses jadi tempat healing orang sedunia.

Kaya di Kertas, Kere di Realita

Mandiri dari mana, Wi? Di atas kertas, perputaran uang pariwisata Bali emang gila-gilaan. Tapi duitnya muter di circle siapa?

Paling muternya di rekening investor asing, bos-bos konglomerat Jakarta, atau expat yang buka vila pakai nama nominee.

Sementara warga lokalnya? Tetap megap-megap kerja over-shift dibayar UMR. Sambil nangis pas bayar kosan di Denpasar yang harganya digoreng ngikutin standar gaya hidup bule Canggu.

Pungutan Turis: Udah Pegang Duit Sendiri, Malah Bocor

“Eh, tunggu dulu. Kita kan udah punya Pungutan Wisatawan Asing (PWA) Rp150 ribu per kepala, Ton!”

Iya, aturan narik pajaknya emang ada. Tapi tau nggak realisasinya berapa? Cuma sekitar 30% turis yang bayar.

Ibarat Khe bikin event eksklusif pakai tiket masuk, tapi satpam di depan pintu ketiduran. Bulenya nyelonong bebas nikmatin surga, kita yang engap nyapu sampah bekas mereka nongkrong.

Lebih nyesek lagi kalau kita lihat alokasi duit PWA yang udah terkumpul. Ratusan miliar lari ke acara “pelestarian budaya” yang ujung-ujungnya cuma seremonial pejabat. Sementara buat ngurusin krisis darurat sampah? Dananya cuma secuil. Gengsi tradisi dijaga mati-matian, tapi bau TPA Suwung dibiarin kecium sampai ke ruang tunggu bandara.

Jadi Tuan Rumah atau Tukang Cuci Piring?

Pada akhirnya, kita sibuk ngerasa jadi korban yang “dianaktirikan” oleh Jakarta. Kita nuntut Pusat adil, tapi ngurus duit pungutan turis di halaman sendiri aja masih salah prioritas dan bocor halus.

Kita merawat pulau ini, jadi tuan rumah pesta perayaan turis sedunia… tapi nasib warga lokalnya cuma jadi tukang cuci piring di pestanya para miliarder.

Menurut Khe, siapa sebenarnya biang kerok dari ilusi kemakmuran ini? Sistem pusat yang kaku, elit lokal yang salah urus, atau emang udah nasib kita cuma jadi NPC di pulau sendiri?

Gaskan unek-unek Khe di kolom komentar di bawah. Argumen yang paling nyelekit bakal admin pin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *