Hari ini banyak dari kita merayakan Hari Bhatara Sri. Ini adalah hari yang jatuh pada Sukra Umanis Merakih, waktu di mana umat berkumpul di sawah atau lumbung untuk berdoa ke Dewi Padi memohon kemakmuran.
Tapi sadar nggak, Ton? Tempat kita sembahyang itu makin hari makin habis.
Kita masih rajin ritual bersyukur ke padi, tapi nasi yang kita makan sehari-hari ternyata makin sering datang dari luar pulau.
Ironi Subak UNESCO dan Sawah yang Lenyap
Bali itu kebanggaan dunia. Sistem irigasi Subak kita bahkan sampai dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2012.
Tapi di balik title estetik itu, realita ketahanan pangan Bali lagi nggak baik-baik saja.
Berdasarkan data BPS Bali, dari tahun 2019 sampai 2024, luas sawah kita menyusut sekitar 6.000 hektare. BPS secara eksplisit menyebut penurunan ini berkorelasi dengan masifnya alih fungsi lahan untuk infrastruktur pendukung pariwisata.
Produksi padi Bali di tahun 2025 tercatat cuma 587.870 ton, alias turun 7,49% dibanding tahun sebelumnya.
Terus, untuk nutupin perut masyarakat lokal, berasnya dari mana? Jawabannya: Bali sekarang harus mendatangkan beras dari luar pulau seperti Jawa dan Sulawesi Selatan.
Pejabat Bilang Surplus, Data Bilang Defisit
Menariknya, sekitar Juli 2026, Gubernur Bali sempat mengklaim kalau Bali itu surplus beras dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakatnya.
Loh, kok datanya bertolak belakang?
Faktanya, ini bukan soal siapa yang bohong, tapi dari mana khe melihat datanya. Menurut riset dari Universitas Udayana, ketimpangan antar-kabupaten di Bali itu nyata.
Denpasar mengalami defisit beras parah sampai 77,78% karena padat penduduk dan minim sawah yang tersisa. Sementara itu, daerah seperti Tabanan dan Gianyar memang masih surplus dan bertindak sebagai “lumbung” penyelamat.
Masalahnya, kawasan yang sawahnya paling masif berubah jadi vila dan restoran itu ada di Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Persis di wilayah yang paling sering pamer “Bali estetik” di Instagram.
Bukan Petani yang Malas, Sistemnya yang Sakit
Ini bukan cerita soal “petani lokal sekarang malas bertani”.
Ini soal sistem yang membuat menjual tanah untuk dibangun vila jauh lebih masuk akal secara finansial daripada capek-capek nanam padi.
Coba bayangkan jadi petani Subak di Tabanan hari ini. Mereka harus menahan gempuran tawaran harga tanah dari investor sendirian, sementara proteksi terhadap Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Bali masih belum cukup kuat menahan laju beton.
Kita yang lahir dan besar di sini, mau mewariskan apa ke generasi berikutnya?
Kalau semua lahan habis jadi akomodasi wisata, besok-besok kita mungkin harus sembahyang Bhatara Sri di lobi hotel.
Jadi, coba ingat-ingat lagi, Ton. Tanah warisan keluarga khe sekarang masih ditanami padi, atau udah berubah jadi kolam renang bule?




