Nongkrong di Kintamani akhir pekan ini sambil minum es kopi susu dan ngeliatin kabut turun ke danau emang chill banget. Estetik. Instagrammable.
Tapi, gimana kalau saya bilang… pemandangan damai yang sering khe pamerin di Story itu sebenarnya adalah lokasi salah satu “kiamat” paling brutal dalam sejarah geologi Bali?
Iya, Gunung Batur yang sekarang khe lihat berdiri dengan tinggi 1.717 mdpl itu sebenarnya “biasa aja”. Gunung tertinggi kedua di Bali ini faktanya cuma sisa dari sebuah gunung api purba raksasa yang hancur lebur menelan dirinya sendiri.
Lupakan sejenak mitos dan cerita pengantar tidur. Mari kita bedah data dari Badan Geologi yang bakal bikin khe mikir dua kali saat ngeliat tebing Kintamani.
Gunung Abang Itu Bukan Gunung Utuh
Pernah merhatiin Gunung Abang? Itu lho, tebing tinggi menjulang yang ada di sisi timur Danau Batur.
Banyak yang mengira itu gunung yang berdiri sendiri. Padahal, Gunung Abang yang puncaknya setinggi 2.152 mdpl itu adalah sisa dari tubuh kerucut Batur purba yang selamat dari keruntuhan. Bayangkan sebuah mangkuk raksasa yang pinggirannya pecah, nah Gunung Abang adalah satu-satunya dinding tebing yang tidak ikut ambruk saat gunung aslinya “bunuh diri”.
Menurut data, pembentukan Batur ini diawali oleh kerucut gunung api purba yang tumbuh bertahap lewat aktivitas vulkanik yang berulang. Ia membesar perlahan, sampai akhirnya menjadi monster.
Kiamat Pertama: 29.300 Tahun Lalu
Kehancuran epik ini nggak terjadi dalam semalam. Semuanya memuncak sekitar 29.300 tahun yang lalu pada letusan besar pertama.
Ledakan ini bukan ledakan biasa. Gunung Batur purba memuntahkan sekitar 84 kilometer kubik material vulkanik. Saking gilanya, kolom letusan atau tiang abunya diperkirakan menembus langit sampai ketinggian 40 kilometer. Sebaran material letusan ini menyapu area yang sangat luas, bahkan abunya terbang dan mengendap sampai ke wilayah utara Denpasar dan Ubud yang jaraknya puluhan kilometer dari pusat letusan.
Karena perut bumi kosong setelah memuntahkan material sebanyak itu, bagian atas gunung raksasa ini tidak sanggup menopang beratnya sendiri. Hasilnya? Gunung ini amblas total ke dalam membentuk lubang raksasa yang disebut Kaldera Batur I.
Ini bukan gunung meletus lalu selesai. Ini gunung yang meledak lalu menelan tubuhnya sendiri.
Belum Puas Hancur, Meledak Lagi
Alam rupanya belum selesai menyiksa Batur. Sekitar 9.000 tahun setelah kiamat pertama, tepatnya pada 20.150 tahun lalu, letusan besar kedua kembali terjadi.
Letusan kedua ini diikuti amblasan gelombang dua, yang akhirnya membentuk Kaldera Batur II. Amblasan kedua inilah yang dasarnya lebih rendah dan sekarang terisi air menjadi Danau Batur yang sering kita lihat hari ini.
Lalu, Gunung Batur yang sekarang sering didaki orang untuk lihat sunrise itu umurnya berapa? Gunung yang sekarang itu cuma “anak gunung” yang baru mulai tumbuh sekitar 5.000 tahun lalu di atas bekas luka kehancuran leluhurnya.
Serpihan Mayat Gunung Purba di Ubud
Ada satu plot twist lagi buat khe yang tinggal atau sering main ke daerah Gianyar.
Pernah lihat ukiran batu padas di Pura Gunung Kawi Tampaksiring? Atau batu padas yang dipakai bahan bangunan oleh warga di Ubud sampai Sukawati? Sisa endapan material letusan purba dari 29.000 tahun lalu itulah yang ditemukan di kompleks tersebut dan menjadi batu padas yang dipakai untuk ukiran sampai hari ini.
Jadi, saat khe menyentuh ukiran batu di pura tersebut, khe literally sedang menyentuh “serpihan mayat” gunung yang meledak puluhan ribu tahun lalu.
Mulai sekarang, tiap kali khe ngopi di coffee shop kawasan Kintamani, ingatlah fakta ini. Danau yang tenang, sawah yang subur, dan pemandangan estetik yang khe nikmati itu lahir dari kehancuran paling brutal.
Kadang, yang paling indah hari ini adalah bekas luka paling parah dari masa lalu.
Bagikan artikel ini ke circle tongkrongan khe, biar mereka tahu kalau mereka sering healing di atas kuburan raksasa.




