Sambat soal macet Bali setelah ada event besar atau upacara adat itu sudah jadi rutinitas wajib warga lokal. Kemarin nyangkut berjam-jam sampai tuha di jalan? Sabar, Ton. Nyalahin event keramaian itu cuma melihat puncak gunung es dari masalah yang sebenarnya.
Mari kita bedah realita jalanan kita yang makin hari makin mirip simulasi tes kesabaran. Akar masalah kemacetan di pulau ini jauh lebih struktural, dan jujur saja, sedikit kocak kalau dilihat dari kacamata birokrasi.
Fakta BPS: 5 Juta Kendaraan vs 4,4 Juta Manusia
Kita kasih paham pakai data resmi BPS tahun 2023. Jumlah kendaraan bermotor di Bali ternyata sudah menembus angka raksasa, yaitu 5.016.351 unit. Coba bandingkan sama populasi penduduk Bali yang angkanya berkisar di 4,4 juta jiwa.
Bayangkan, rasio kendaraannya melebihi jumlah manusia. Secara statistik kasarnya, bayi yang baru lahir di rumah sakit pun ibaratnya sudah punya jatah satu kendaraan pelat DK. Dari total 5 juta unit tersebut, 85,8% atau sekitar 4,3 juta unit adalah sepeda motor.
Buat Khe yang tiap hari nyelip-nyelip dan bertaruh nyawa pakai Beat Karbu keluaran 2012 kesayangan sambil kepanasan di lampu merah, selamat. Khe sedang berkompetisi langsung dengan jutaan motor lainnya untuk memperebutkan sejengkal aspal.
Ironi Trans Metro Dewata: Transportasi Umum Kok Cuti Paksa?
Logika orang waras: kalau jalanan sudah overload dengan kendaraan pribadi, pemerintah harus menyediakan transportasi umum yang andal, murah, dan terintegrasi. Realitanya? Comedy gold.
Trans Metro Dewata (TMD) yang digadang-gadang jadi tulang punggung transportasi publik Bali justru sempat berhenti beroperasi total selama empat bulan penuh. Dari akhir Desember 2024 sampai April 2025, bus-bus merah ini nganggur di garasi di saat krisis macet Bali sedang parah-parahnya.
Alasannya bukan karena invasi alien. Bus-bus ini berhenti murni karena masalah pendanaan dan keruwetan birokrasi alih kelola dari pemerintah pusat ke Pemerintah Provinsi Bali. Warga diminta peduli lingkungan dan beralih ke transportasi umum, tapi transportasinya sendiri gampang banget kena “cuti paksa” karena tarik-ulur anggaran.
Berhenti Berantem Sesama Pengguna Jalan
Jadi, sebelum Khe ngomel ke Bli-bli yang potong jalur sembarangan, atau nyinyir ke anak skena yang bikin macet jalanan menuju gigs, sadari satu hal ini. Kita semua sama-sama korban dari sistem tata ruang dan transportasi yang pengelolaannya belum beres.
Menyalahkan sesama warga yang terpaksa pakai kendaraan pribadi buat berangkat kerja itu salah sasaran. Warga butuh solusi transportasi massal yang keandalannya bisa dipegang, bukan yang nasibnya ditentukan oleh sisa anggaran birokrasi.
Selama transportasi publik kita masih sebatas trial and error, mari nikmati saja sauna gratis di jalan raya tiap sore. Hati-hati di jalan, Ton!




