Skip to main content

ORASI

Bali Terus Bangun Jalan Baru, Tapi Kenapa Tiap Pagi Kita Tetap “Tua di Jalan”?

Tiap tahun pasti ada aja proyek jalan baru di Bali. Pada April 2026, pemerintah memamerkan proyek strategis seperti Jalan Baru Gatsu Barat–Canggu, underpass Tohpati, sampai dukungan percepatan Tol Gilimanuk–Mengwi. Janjinya selalu sama: biar mobilitas makin lancar, Ton. Tapi realitanya, tiap jam 8 pagi dan 5 sore, jalanan tetap jadi neraka dunia. Kita tetap aja telat masuk kantor dan habis umur di jalan. Pertanyaannya, apakah Bali sedang membangun sistem agar manusia lebih mudah bepergian, atau hanya menambah ruang agar lebih banyak kendaraan bisa lewat?

Ruang Jalan Melawan Jutaan Kendaraan

Banyak yang mikir solusi macet di Bali itu gampang: kurang lebar aja jalannya. Padahal, mari kita lihat data BPS 2025. Terdapat sekitar 5.537.916 kendaraan bermotor di Bali. Dari angka raksasa itu, sekitar 85,9% adalah sepeda motor. Bayangkan 40 orang menuju satu tempat yang sama; kalau pakai motor, butuh 20–40 kendaraan di jalan raya. Secanggih dan selebar apa pun jalannya, kalau volume kendaraan berkapasitas kecil terus mendominasi ruang, jalan raya pasti bakal tetap penuh.

Ilusi Jalan Baru dan Lingkaran Setan

Ada satu mekanisme tata kota yang namanya induced demand. Intinya begini: menambah kapasitas jalan di kawasan perkotaan yang padat itu ibarat melonggarkan sabuk untuk mengobati obesitas. Awalnya memang terasa lega dan lancar. Tapi kelancaran sementara itu perlahan mengubah perilaku orang. Sebagian orang yang tadinya naik bus balik bawa mobil, dan rute-rute yang dihindari mulai dilewati lagi. Akhirnya, kapasitas jalan yang baru dibangun itu pelan-pelan kembali penuh. Tanpa transportasi massal yang layak, manfaat perluasan jalan ini bisa cepat habis.

Tata Ruang yang Maksa Kita Punya Motor

Akar masalahnya sebenarnya lebih dalam dari sekadar aspal. Ini soal lokasi kehidupan sehari-hari kita yang semakin terpencar. Coba pikir, rumah di Tabanan, kerja di Canggu, sekolah anak di Denpasar, lalu akhir pekan ada urusan adat di kampung. Semua kebutuhan hidup kita nggak bisa dijangkau cuma dengan jalan kaki atau satu angkutan umum. Secara mobilitas, wilayah Sarbagita bekerja layaknya satu kawasan metropolitan yang saling bergantung. Kemacetan Canggu jelas nggak bisa diselesaikan oleh Pemkab Badung sendirian kalau pekerjanya setiap pagi tumpah ruah dari Denpasar dan Tabanan.

Kenapa Tambah Bus Aja Nggak Cukup?

Terus, kenapa orang nggak langsung pindah naik angkutan umum? Jawabannya sederhana: orang tidak otomatis pindah ke bus hanya karena busnya tersedia. Masyarakat Bali bukan hobi panas-panasan naik motor. Tapi motor sering jadi satu-satunya moda rasional yang bisa menyelesaikan seluruh perjalanan dari pintu rumah ke pintu kantor. Kalau halte jauh, waktu kedatangan nggak pasti karena bus ikut terjebak macet, dan perjalanan akhirnya kalah cepat dari motor, masyarakat pasti kembali menggunakan kendaraan pribadi.

Pada akhirnya, kemacetan di Bali ini menggerus banyak hal: bensin bertambah, waktu produktif hilang, dan waktu kumpul bareng keluarga berkurang tajam. Siapa yang harus mengorbankan waktu paling banyak agar ekonomi Bali tetap berjalan? Jawabannya adalah kita yang tiap hari harus menembus jalanan antar-kabupaten. Kalau seluruh solusi pemerintah masih berujung mengharuskan kita bawa kendaraan sendiri, kita patut bertanya-tanya. Jangan-jangan yang sedang dibangun memang cuma lebih banyak ruang untuk kendaraan, bukan untuk manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *