Pernah kepikiran nggak? Hari Raya Saraswati itu dirayakan sebagai momentum turunnya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Tapi, ritual yang paling sering diajarkan sejak kita kecil justru menyuruh kita berhenti membaca dan menulis.
Sekilas, logikanya kelihatan error banget. Gimana ceritanya ngerayain hari ilmu, tapi kita malah disuruh ngejauh dari buku? Buat kita yang hidupnya tiap detik dicekoki algoritma sosmed dan endless scrolling, aturan ini rasanya kayak prank budaya.
Apakah leluhur kita di Bali sebenarnya anti-pintar? Atau diem-diem mereka paham kalau kita butuh alasan sah buat rebahan massal?
Mari kita bongkar asumsi lawas ini pakai kacamata yang agak beda.
Bukan Larangan, Tapi “Rem Darurat”
Tiap 210 hari sekali, siklus pawukon ini berulang. Buku-buku pelajaran, lontar, sampai laptop dikumpulkan, dihaturkan banten, lalu kita dilarang menyentuhnya.
Kalau merujuk ke Lontar Sundarigama, aturan ini memang bagian dari Brata Saraswati.
Ada teks yang menyebutkan pantangan untuk angureka, aksara, amaca, anulis—alias merekacipta aksara, membaca, dan menulis.
Tapi di sinilah kita sering kejebak framing. Brata ini bukan debt collector yang menyita hak belajarmu.
Faktanya, durasi pelaksanaan brata ini bervariasi dan fleksibel.
Ada yang cuma membatasi sampai tengah hari, ada yang full 24 jam. Bahkan malam harinya, dalam pendidikan agama justru dianjurkan melakukan malam sastra atau sambang samadhi.
Malam sastra ini dipakai buat baca buku agama atau merenung. Artinya? Ini sama sekali bukan pelarangan belajar mutlak. Ini adalah sebuah jeda.
Ironi Obesitas Informasi
Coba kita jujur sebentar. Dulu, leluhur kita menyimpan ilmu dengan susah payah di atas daun lontar. Sekarang? Tinggal buka HP, dalam hitungan detik kamu bisa tahu cara kerja black hole sampai drama artis terbaru.
Tapi coba tanya ke diri sendiri. Dari ribuan caption, artikel, dan video TikTok yang kamu tonton hari ini, berapa persen yang beneran masuk ke otak?
Kita lagi hidup di era obesitas informasi. Makin gampang info didapat, makin malas kita merenungkan esensinya. Membaca di era sekarang seringkali cuma jadi rutinitas FOMO (Fear of Missing Out), bukan proses pencarian kebijaksanaan.
Digital Detox Sebelum Silicon Valley Paham
Di titik inilah logika Brata Saraswati terasa sangat tajam dan relevan.
Leluhur kita di Bali jelas belum kenal istilah digital detox atau attention management ala tech-bros di Silicon Valley. Tapi mereka seolah udah memprediksi bahayanya kalau otak manusia dipaksa ngebut nyerap informasi 24/7 tanpa henti.
Berhenti baca teks seharian pas Saraswati itu ibarat menekan tombol pause. Brata adalah laku pengendalian diri. Ini waktunya menggeser fokus. Dari yang awalnya cuma rakus “mengonsumsi”, menjadi momen untuk “menghormati”.
Buat Apa Ilmu Kalau Cuma Bikin Berisik?
Saraswati sebenarnya lagi ngasih tamparan halus buat ego intelektual kita. Ilmu itu nggak diciptakan sekadar buat dikejar demi selembar ijazah, atau buat bahan adu mekanik argumen di kolom komentar medsos. Pengetahuan butuh waktu khusus untuk dihormati. Butuh ruang kosong di kepala agar ia bisa mengendap menjadi kebijaksanaan.
Kalau kamu bisa menghabiskan waktu 6 jam sehari buat scrolling tanpa arah, masa iya ngasih jeda sehari buat nggak baca buku aja susahnya minta ampun?
Pertanyaannya sekarang: pas Saraswati kemarin, kamu beneran off baca sampai jam berapa? Atau jangan-jangan, pas banten udah naik di rong-rongan, tanganmu diam-diam masih asyik scroll HP di balik selimut?
Coba kasih pembelaanmu di kolom komentar. Jangan-jangan, kita semua sebenarnya butuh brata lebih dari sehari.




