Belakangan ini, linimasa Threads ramai memperdebatkan nominal biaya upacara keagamaan di Bali. Pemicunya sederhana tapi bikin ngilu dompet: ada seorang pengguna yang membagikan pengalaman menghabiskan sekitar Rp7-8 juta untuk upacara tiga bulanan anaknya, yang bahkan hanya digelar di rumah, bukan di Griya. Sebagai pasangan dengan penghasilan UMR Denpasar, nominal tersebut tentu bukan uang kecil karena merupakan hasil menabung berbulan-bulan.
Namun, di utas yang berbeda, muncul sebuah plot twist. Seseorang membagikan pengalamannya bertemu Jero Mangku progresif dan hanya perlu membayar Rp550 ribu untuk rangkaian banten 42 hari. Kontras angka ini langsung memicu pertanyaan besar: Kalau upacara ratusan ribu saja sudah sah, kenapa kita sering kali merasa harus keluar uang jutaan rupiah?
Mari kita bedah isu ini. Apakah benar “beragama di Bali itu mahal”, atau kita saja yang terjebak dalam ilusi gengsi sosial dan ketakutan akan omongan tetangga?
Nista, Madya, Utama: Pilihan Skala, Bukan Kasta Sosial
Banyak dari kita yang salah kaprah menerjemahkan tingkatan upacara Hindu di Bali. Konsep nista (kecil/inti), madya (sedang), dan utama (besar) sering kali dibaca dengan kacamata kelas sosial modern. Seolah-olah nista itu untuk si miskin dan utama untuk si kaya. Padahal, tingkatan ini murni membicarakan kompleksitas skala upakara (sarana/banten), dan tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menilai ketulusan seseorang.
Faktanya, besarnya biaya tidak dapat digunakan sendirian untuk mengukur kualitas yadnya (korban suci). Upacara kecil belum tentu memiliki nilai spiritual yang kecil. Kuncinya ada pada ketulusan dan bhakti, bukan seberapa megah tumpukan buah di atas pajegan atau seberapa panjang antrean tamu undangan.
Konsep ‘Sakti’ dan Larangan Keras Berutang
Mari kita kembali ke literatur dasar. Dalam ajaran Hindu, pelaksanaan yadnya memiliki landasan yang disebut sakti, yang berarti pelaksanaan upacara wajib menyesuaikan dengan kemampuan diri, termasuk dalam hal pendanaan.
Menurut Bhagavad Gita XVII.11, yadnya yang tergolong sattvika (kualitas tertinggi) adalah upacara yang dilakukan sesuai ketentuan, sebagai kewajiban, dan tanpa mengharapkan hasil atau pamrih. Lebih menohok lagi, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dalam penjelasannya secara tegas mengingatkan agar pelaksanaan yadnya tidak sampai meninggalkan utang bagi keluarga.
Jadi, jika agamamu sendiri memberikan kelonggaran untuk menyesuaikan upacara dengan kemampuan ekonomi, lalu untuk siapa kamu memaksakan diri hingga membobol tabungan darurat?
“CCTV Banjar” dan Harga Sebuah Gengsi
Di sinilah kita masuk ke akar masalah sebenarnya. Sering kali, yang membuat sebuah upacara di Bali menjadi mahal bukanlah kebutuhan ritualnya, melainkan pilihan sosial di sekitarnya.
Ada tiga lapisan yang sering tercampur aduk oleh masyarakat: kebutuhan ritual, tradisi lokal, dan pilihan sosial. Kebutuhan ritual adalah sarana inti upacara. Tapi pilihan sosial—seperti jumlah undangan, pesanan katering babi guling, dekorasi tenda, hingga sewa fotografer—adalah variabel yang membengkakkan anggaran.
Kajian dari Ni Putu Parmini dalam Jurnal Kajian Bali menyoroti dilema ini: persaingan atau pamer dalam pelaksanaan yadnya telah menjadi masalah sosial, padahal ketulusan adalah prinsip yang paling penting. Tulisan akademik lain dalam jurnal Mudra juga membahas bagaimana ritual religius sering bersinggungan dengan gengsi sosial.
Pada akhirnya, banyak keluarga kelas menengah dan Gen Z di Bali yang memaksakan diri menggelar upacara berskala besar bukan karena dorongan spiritual, melainkan karena takut pada “CCTV Banjar”—ketakutan akan komentar miring tetangga seperti, “Kok upacaranya cuma segini?”
Saatnya Gen Z Bali Lebih Pragmatis?
Membicarakan kemampuan ekonomi tidak otomatis bertentangan dengan semangat yadnya. Tradisi dan budaya memang harus tetap hidup, tetapi keberlanjutannya akan terancam jika generasi penerusnya justru tercekik secara finansial dan psikologis akibat beban kewajiban ritual.
Dua cerita kontras di Threads tadi membuktikan satu hal: opsi untuk beribadah dengan simpel dan terjangkau itu ada. Pertanyaannya sekarang berbalik kepada kita sendiri dan lingkungan tempat kita tinggal.
Kalau kamu, sebagai Gen Z dengan gaji UMR, memilih untuk menggelar upacara sederhana yang tak sampai menguras tabungan anakmu kelak… apakah mentalmu sudah cukup tebal untuk mengabaikan omongan tetangga?
Karena pada akhirnya, bhakti tidak memiliki label harga, dan Tuhan tidak pernah memintamu untuk berutang.




