ORASI

Patung Catur Muka Tabanan Rp 4,89 Miliar: Healing Estetik di Tengah Jalan Berlubang

Ton, bayangin khe berangkat kerja pagi-pagi, punggung udah encok, jalanan macet, terus ban motor tiba-tiba nyungsep di aspal berlubang. Kesel? Jangan. Tarik napas panjang, karena sebentar lagi kesedihan itu bakal terbayar lunas oleh sebuah mahakarya visual di pusat kota.

Pemerintah baru saja mengucurkan anggaran khusus sebesar Rp 4,89 miliar untuk membangun ulang Patung Catur Muka Tabanan. Ya, khe nggak salah baca, miliaran rupiah demi sebuah patung. UMK kita memang kadang bikin meringis, tapi setidaknya kalau lagi nunggu lampu merah, kita bisa memandangi ikon kota yang estetik.

Ambisi 9 Meter: Biar Nggak Kalah dari Kabupaten Sebelah

Jujur saja, langkah ini patut kita apresiasi secara satir. Ngapain pusing mikirin fasilitas publik atau infrastruktur pinggiran kalau kita bisa punya patung setinggi ±9 meter?

Kabarnya, ada ambisi dari kepala daerah agar ikon baru ini bisa berdiri semegah Patung Bayi di Gianyar. Gengsi antar-kabupaten itu penting, Ton. Masa kita mau kalah megah dari daerah tetangga? Kalau Gianyar punya bayi batu raksasa, Tabanan jelas butuh sesuatu yang lebih monumental agar feed Instagram warganya makin menyala.

Bukan Asal Bongkar, Tetua Adat Sudah Sepakat

Sebelum khe ikut-ikutan marah di media sosial, ada fakta penting yang wajib diketahui. Pembongkaran ini sama sekali bukan inisiatif sepihak yang mengabaikan nilai sejarah. Permohonan resmi pergantian patung justru datang dari Desa Adat Kota Tabanan sendiri, dengan dukungan penuh Raja Tabanan.

Secara spiritual, ritual Meprelina (Ngeruak dan Pralina) juga sudah dijalankan tepat pada 8 Juli 2026 lalu. Artinya, wujud lama yang sudah retak dan lapuk tersebut telah dikembalikan secara sah menurut pakem Hindu Bali. Jadi, jangan serang ranah adatnya. Secara birokrasi dan tradisi, semuanya sudah mendapat lampu hijau.

Monumen Ego atau Prioritas Warga?

Celah yang paling bikin garuk-garuk kepala justru ada pada alokasi dan skala prioritasnya. Kondisi fisik patung lama memang diakui mengalami pelapukan, retak, dan ornamen lepas, sehingga berpotensi membahayakan keselamatan publik. Mengganti benda lapuk memang logis. Tapi, haruskah diganti dengan monumen super megah senilai Rp 4,89 miliar di saat warga biasa masih sering menjerit soal fasilitas dasar?

Bagi sebagian orang, melihat alat berat meratakan area tersebut pada 12–13 Juli 2026 terasa cukup mengejutkan. Publik seakan baru sadar ketika debu sudah mengepul, alih-alih benar-benar diajak berimajinasi bersama sejak awal tentang wajah tata ruang kota mereka.

Pada akhirnya, kita sebagai masyarakat cuma bisa menikmati pertunjukan ini. Kalau besok-besok khe ngerasa dompet tipis atau fasilitas desa terbengkalai, ingatlah selalu: kita akan segera memiliki Patung Catur Muka Tabanan yang luar biasa megah. Mungkin itu sudah lebih dari cukup untuk healing visual di tengah kerasnya realitas hidup di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *