ORASI

Dibilang Rasis Tapi Menghamba Bule:Membongkar Standar Ganda Netizen keBali

Ton, coba perhatikan timeline media sosialmu belakangan ini. Dalam waktu yang nyaris bersamaan, Bali dihajar dua tuduhan dari netizen yang rasanya saling bertolak belakang.

Di satu sisi, kita dituduh eksklusif dan rasis kepada pendatang lokal. Namun di kolom komentar sebelah, kita malah dicap punya mental inlander yang menghamba bule.

Dibilang rasis iya, dibilang tunduk sama orang asing juga iya. Sebenarnya kita di mata netizen ini posisinya ada di mana? Mari kita bedah fenomena standar ganda Bali yang belakangan makin brutal di internet.

Tiga Peristiwa, Satu Standar Ganda Bali yang Jomplang

Semua keriuhan ini bermula dari tiga peristiwa yang kebetulan jaraknya sangat berdekatan: Kasus oknum penjahit yang arogan, protes terhadap komunitas lari ekspatriat di Canggu yang memakan jalan, dan tentu saja, medali emas Olimpiade dari Desak Made Rita Kusuma Dewi.

Tiga peristiwa ini tanpa sadar membongkar satu standar ganda yang paling parah di kultur internet +62.

Saat oknum penjahit berulah dan viral, hujatannya tidak berhenti di individu. Satu Bali langsung diseret ke kolom komentar. Kalimat pamungkas seperti, “Orang Bali emang gitu ke pendatang” atau “Bali rasis” mendadak jadi opini publik yang seolah disepakati bersama.

Tapi perhatikan apa yang terjadi saat Desak Made Rita meraih prestasi luar biasa. Pujiannya mendadak sangat spesifik dan eksklusif. Netizen memujinya dengan, “Desak memang luar biasa!” Tidak ada yang tiba-tiba berteriak di kolom komentar, “Wah, orang Bali memang berprestasi!”

Hukum tidak tertulis netizen saat ini: Kesalahan individu dari Bali adalah dosa kelompok, tapi prestasi individu murni milik pribadi.

Mengapa “Bali Rasis” Lebih Laku Dijual?

Secara psikologis, fenomena standar ganda Bali ini punya penjelasan ilmiah. Kita sedang melihat kombinasi antara Out-group homogeneity bias dan Negativity bias.

Otak Manusia dan Reaksi Kemarahan

Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk lebih cepat merespons ancaman, kemarahan, dan hal-hal negatif dibandingkan rasa bangga. Kasus yang menyinggung isu SARA atau arogansi lokal akan memancing orang untuk mengetik opini panjang lebar.

Sebaliknya, berita medali emas—sehebat apa pun itu—cukup numpang lewat di Insta Story selama 24 jam lalu dilupakan.

Peran Algoritma dalam Menjual Konflik

Di sinilah algoritma media sosial dan akun-akun bodong panen cuan. Algoritma sama sekali tidak peduli siapa yang benar atau siapa yang salah. Mereka hanya mengkonsumsi reaksi kemarahan kita.

Konflik individu (seperti oknum penjahit) dengan cepat digoreng menjadi konflik etnis. Isu “menghamba bule” vs “rasis ke lokal” terus diadu. Masyarakat saling serang, warga lokal jadi defensif, pendatang jadi sinis, dan tebak siapa yang untung? Ya, platform dan akun-akun repost yang engagement-nya meledak.

Berhenti Playing Victim, Mulai Kritis

Meski standar ganda Bali ini menyebalkan, kita di sini bukan sedang melakukan playing victim, Ton. Fakta bahwa ada oknum lokal yang rasis atau diskriminatif di Bali adalah hal yang tetap harus disikat, siapa pun pelakunya.

Begitu juga dengan kritik soal “menghamba bule”. Harus kita akui, kadang struktur pariwisata kita tanpa sadar memang memberi karpet merah lebih tebal untuk turis asing ketimbang domestik. Kritik-kritik ini valid dan perlu jadi bahan evaluasi kita sebagai tuan rumah.

Tapi, mengkritik tindakan pelaku itu beda jauh dengan menghakimi identitas kelompoknya.

Kesimpulan: Kritik Pelakunya, Bukan Identitasnya

Pada akhirnya, kalau satu medali emas tidak cukup untuk mewakili seluruh karakter orang Bali, maka satu atau dua kesalahan oknum juga tidak pernah cukup untuk menghukum seluruh masyarakat Bali.

Sebelum tangan gatal ikut-ikutan ngetik dan debat di kolom komentar, coba tanya sebentar ke diri sendiri: Kita ini lagi benar-benar mengkritik perilaku pelakunya, atau cuma lagi kepancing algoritma buat menghukum identitasnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *