ORASI

Tat Twam Asi di Era Gen Z: Hilang Ditelan Gengsi Local Pride Bali?

Ton, pernah nggak Khe naruh barang buat diservis, janjinya kelar hitungan hari, tapi pas ditagih malah dikasih orasi soal KTP? Kalau belum, Khe kurang main jauh. Belakangan ini, timeline kita lagi panas bahas sebuah video viral pelanggan yang ngamuk ke seorang ibu penjahit.

Alih-alih urusan kelar, yang terjadi malah debat kusir yang menampar realita sosial kita hari ini. Mari kita bedah pakai logika gampang.

Komplain Servis Berujung Adu KTP

Fakta di lapangan: servis baju molor sampai empat hari. Sang customer datang untuk komplain menagih haknya. Sebagai penyedia jasa yang profesional, SOP normalnya adalah minta maaf atau beri penjelasan logis kenapa kerjaan itu ngaret.

Tapi apa yang terjadi? Bukannya evaluasi, si penyedia jasa malah langsung pasang kuda-kuda defensif. Keluarlah jurus andalan: tameng Local Pride Bali.

Tiba-tiba kalimat “kamu tuh orang luar, cari makan di sini” meluncur bebas. Transaksi bisnis yang murni soal uang dan jasa mendadak bergeser jadi debat sensus penduduk dan adu kasta kedaerahan. Masuk akal nggak, Ton?

Local Pride Bali atau Darurat Profesionalisme?

Banggain tanah kelahiran itu wajib. Tapi kalau embel-embel local pride Bali cuma dipakai buat tameng anti-kritik pas kerjaan kita lagi berantakan, itu namanya krisis mentalitas.

Kita sering lupa, customer itu bayar pakai mata uang Rupiah, bukan pakai sertifikat tanah warisan. Menyelimutkan ketidakmampuan menjaga komitmen kerja dengan sentimen kedaerahan adalah bentuk rasa entitlement (merasa berhak) yang bikin local business kita susah maju.

Kalau standar profesionalisme kita cuma mentok di prinsip: “Syukur-syukur mau digarapin, toh ini tanah saya”, maka jangan kaget kalau perlahan ekosistem bisnis lokal kalah saing sama pendatang yang kerjanya lebih sat-set.

Kemana Menguapnya Tat Twam Asi?

Sejak kecil, kita di Bali dicekoki konsep luhur Tat Twam Asi. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri. Konsep yang sangat indah, apalagi kalau cuma dipakai buat modal nulis caption senja pas lagi nongkrong santai di Kintamani.

Tapi realitanya? Di dunia modern yang penuh tekanan ekonomi ini, filosofi itu sering mendadak amnesia saat ego kita kesentil. Konsep “Aku adalah Kamu” seketika berubah jadi “Aku orang lokal, Kamu cuma pendatang”.

Kita makin gampang melempar sentimen SARA saat terdesak. Padahal, wujud paling nyata dari Tat Twam Asi hari ini adalah bagaimana kita memanusiakan orang lain saat berinteraksi dan berbisnis, tanpa melihat dari mana mereka berasal.

Waktunya Anak Muda Bali Melek Realita

Buat Khe yang sekarang lagi capek-capeknya bangun karir, ngerintis hustle sana-sini, dan megap-megap bayar kos di Denpasar—mari jadikan kasus viral ini sebagai tamparan.

Local pride yang sejati itu dibuktikan dari etos kerja, Ton. Rasa hormat itu datang saat customer kagum dengan kualitas skill kita, bukan karena kita numpang lahir di pulau yang sama. Kehormatan itu dicetak lewat profesionalisme, bukan sekadar di- print di atas selembar KTP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *