Gek, mari kita jujur-jujuran. Menjadi mama muda di Bali saat ini butuh keahlian survival tingkat dewa. Kalau dulu orang tua kita stresnya cuma sebatas mikirin anak mau makan apa, sekarang beban yang dipikul jauh lebih kompleks.
Bagi khe yang harus banting tulang ngurus anak—apalagi kalau kebetulan lagi riuh ngurus dua anak kecil di rumah—pasti paham rasanya. Ada dua realita yang terus berbenturan: tuntutan gaya hidup modern dan kewajiban kultural yang pantang dilewatkan. Sayangnya, ada satu side quest harian yang ternyata paling bikin burnout.
Ekspektasi vs Realita: Antara Susu Mahal dan Gengsi Adat
Daftar tagihan mama muda di Bali itu panjangnya ngalahin antrean puskesmas. Di satu sisi, kita harus mikirin harga pampers, susu formula, sampai biaya daycare atau dokter spesialis anak. Di sisi lain, kita hidup di lingkungan yang mewajibkan partisipasi adat.
Biaya upacara seperti 42 harian, tigang sasih, sampai 1 oton itu nominalnya tidak main-main. Gengsi keluarga tetap harus dijaga, kan? Walau di balik senyum manis saat pakai kebaya dan kain kamen, tabungan sebenarnya sedang menjerit pelan. Kita rela ngirit uang skincare atau batal healing ke coffee shop demi memastikan banten otonan anak yang terbaik. Tujuannya murni: mendoakan si kecil agar sehat, dirgayusa, dan dilindungi semesta.
Side Quest Paling Bikin Burnout: Cosplay Jadi Satpam Ventilasi
Sudah capek fisik dan finansial, eh ternyata ujian terberatnya malah datang setiap jam 5 sore. Bukan dari mertua yang rewel, melainkan dari tetangga sebelah.
Tiba-tiba, tugas utama mama muda bertambah: menjadi Satpam Ventilasi. Begitu mencium bau sangit plastik terbakar dari natah sebelah, paniknya langsung mengalahkan rasa lupa mematikan kompor. Khe harus lari-larian menarik jemuran, menutup pintu, dan menyegel jendela kamar bayi rapat-rapat.
Ya, praktik membakar sampah kembali dinormalisasi dengan dalih “krisis truk angkut” atau “iuran sampah makin mahal”.
Ironi Toleransi Beracun yang Merusak Paru-Paru
Ini bagian yang paling tidak masuk akal, Ton. Kita mati-matian menggelar upacara jutaan rupiah untuk mendoakan kesehatan bayi. Tapi di saat yang sama, karena tetangga malas menambah iuran bulanan dan tidak sabar menunggu truk angkut yang kadang telat sebentar, paru-paru bayi kita justru dijejali asap styrofoam.
Padahal, pemerintah sudah jelas punya aturan. Perda Provinsi Bali No. 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah dengan tegas memuat larangan membakar sampah yang tidak sesuai persyaratan teknis. Tapi seperti biasa, aturan ini mandul saat dihadapkan pada asas “toleransi bertetangga” yang salah tempat.
Berhenti Memaklumi Egoisme Tetangga
Menjadi mama muda di Bali sudah cukup berat tanpa harus memikirkan kualitas udara di dalam kamar tidur anak sendiri. Truk sampah yang telat memang menyebalkan, tapi itu sama sekali bukan tiket gratis untuk meracuni lingkungan.
Jadi, kalau besok sore tetangga mulai menyalakan korek apinya lagi, khe punya pilihan: tetap diam demi menjaga perasaan orang yang tidak memikirkan napas anakmu, atau mulai berani bersuara. Karena udara bersih untuk anak kita adalah hak dasar, bukan giveaway dari tetangga.




