ORASI

STT Bali Kena Sindir: Organisasi Raksasa yang Ditinggal Nongkrong Anggotanya?

Ton, coba ingat-ingat. Kapan terakhir kali khe datang kumpul banjar tanpa dipaksa absen, atau tanpa bayang-bayang denda dari kelihan?

Secara statistik, Sekaa Teruna Teruni (STT) itu raksasa. STT di Bali jumlahnya kurang lebih setara dengan jumlah banjar yang ada. Tapi ironisnya, belakangan ini bale banjar justru makin sepi dari tongkrongan anak muda. Kenapa organisasi pemuda tertua ini seolah kehilangan tajinya di mata Gen Z Bali?

Fenomena “Pesu Kapah” dan Realita Pemuda Banjar

Berdasarkan reportase BaleBengong pada Februari 2026 yang membahas “Paradoks Identitas Sekaa Teruna Teruni di Bali”, partisipasi STT di kota-kota seperti Denpasar memang makin menurun seiring orang muda mulai bekerja. Circle pertemanan di banjar pun makin mengecil.

Puncaknya? Muncul fenomena poster-poster bernada sarkas yang ditempel di beberapa banjar untuk menyindir anggota yang jarang muncul. Salah satu kalimat di poster tersebut berbunyi sangat menohok:

“Gaya gagah, pesu kapah. Mani mati kanggoang kremasi.” (Gaya gagah, jarang ke luar ke banjar. Besok meninggal mending kremasi).

Dark jokes level dewa ini membuktikan ada keputusasaan dari pengurus melihat anggotanya yang makin susah diajak ngumpul.

Gejala “Post Tradisi” Menggeser Bale Banjar

Apakah Gen Z Bali sudah tidak peduli adat? Dosen dan budayawan Bali, Dewa Gede Purwita, menyebut pergeseran ini sebagai gejala “post tradisi”. Tradisi kini tidak lagi berdiri sebagai satu-satunya rujukan nilai.

Dulu, banjar bisa menjadi ruang bersosial, ruang demokrasi, hingga wadah urun pendapat. Sekarang? Ruang sosial banjar perlahan digantikan oleh ruang digital yang cakupannya jauh lebih luas. Kita lebih asyik berdebat di circle media sosial daripada duduk bersila di balai banjar mendengarkan rapat yang kaku.

Plot Twist: Kawan Banjar dan Antusiasme yang Menyala

Nah, di sinilah letak ironi sekaligus plot twist terbesarnya. Di saat STT dinilai kehilangan relevansi sosialnya, antusiasme pemuda banjar tiba-tiba meledak karena sebuah inisiatif dari luar struktur adat.

Adalah Kawan Banjar, sebuah kompetisi trivia (cerdas cermat) antar-STT se-Bali yang digagas oleh media independen Bali Next Gen. Acara ini digagas oleh I Wayan Adi Wikantara (Adi Wikan) sebagai wadah berekspresi dan inkubator ide bagi Gen Z dan milenial di Bali.

Lalu, apa yang bikin Kawan Banjar sukses bikin anak STT semangat lagi?

  • Format Kekinian: Menggunakan format trivia atau cerdas cermat yang sangat populer di kalangan anak muda.
  • Kemasan Pop-Kultur: Acara ini dikemas dengan gaya “pop-kultur kekinian”, sama sekali bukan acara adat yang formal dan kaku.
  • Arena Gengsi Positif: Menjadi arena adu wawasan, strategi, dan kekompakan lintas banjar yang membahas budaya Bali hingga isu kekinian.

Acara ini membuktikan secara telak bahwa interaksi lintas-banjar antar-STT sangat bisa dilakukan. Hanya saja, yang berhasil memantik hal itu justru sebuah media independen, bukan pemerintah provinsi atau desa adat.

Bukan Apatis, Gen Z Hanya Butuh Ruang yang Tepat

Kita tidak bisa meremehkan kekuatan pemuda Bali. Pada Pilkada Bali 2024, Gen Z dan milenial menyumbang 56,45% dari total pemilih. Massa sebesar ini butuh ruang berekspresi yang tidak cuma menyuruh mereka ngayah secara buta, tapi juga menstimulasi intelektualitas mereka.

Visi dari Kawan Banjar sangat jelas: ingin melihat langsung bahwa STT kita sebenarnya sangat dinamis, cerdas, dan suportif. Jadi, kalau khe melihat kawan banjarmu sering absen, jangan buru-buru dikatai pesu kapah. Mungkin mereka cuma bosan jadi “Event Organizer Adat” dan butuh format interaksi yang lebih modern.

Menurut khe, apakah sistem paruman di banjar kita perlu direvolusi agar lebih asyik buat Gen Z? Drop opinimu di kolom komentar, atau share artikel ini ke grup WA banjarmu kalau khe berani!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *