Bangun pagi, mandi, lalu rutinitas dimulai: menyapu halaman dan mebanten canang setiap hari. Buat sebagian besar dari kita, ini udah kayak default setting hidup di Bali. Nggak mebanten sehari rasanya ada yang kurang, atau lebih tepatnya: takut diomongin mertua atau tetangga sebelah.
Tapi, pernah nggak Khe bener-bener ngecek, apakah mebanten canang setiap hari itu beneran kewajiban mutlak dari leluhur, atau sekadar dresta yang udah kecampur sama gengsi sosial?
Mari kita bongkar catatannya, Ton. Karena jawabannya lumayan bikin kaget, dan ini ada hubungannya sama nasib sampah kita yang bentar lagi ngga punya tempat bernaung.
Membedah Aturan: Nitya Karma vs Naimitika Karma
Dalam Hindu Bali, pustaka suci membagi sistem yadnya jadi dua jalur utama:
- Nitya Karma: Kewajiban harian yang mutlak dilakukan tanpa terkecuali.
- Naimitika Karma: Kewajiban yang dilakukan saat hari-hari tertentu atau rerahinan.
Banyak yang mengira bahwa mebanten canang setiap hari di pelinggih itu otomatis masuk Nitya Karma. Padahal, menurut lontar dan kitab suci, bukan itu tokoh utamanya.
Mesaiban: Bintang Utama Nitya Karma
Kalau kita merujuk pada Bhagavad Gita III.13 dan Manawa Dharmasastra, yang berstatus wajib tiap hari (Nitya Karma) itu justru Mesaiban alias Yadnya Sesa.
Mesaiban ini murni tradisi dapur. Modalnya cuma secuil nasi dan lauk hari itu, dialasi daun pisang kecil. Nggak perlu kawat, nggak pakai styrofoam, dan sepenuhnya biodegradable (nol limbah non-organik). Leluhur kita udah nerapin konsep zero waste dari ratusan tahun lalu lewat ritual ini.
Di Mana Posisi Canang?
Lalu, bagaimana dengan mebanten canang setiap hari? Menurut Lontar Sundarigama, menghaturkan canang itu posisinya sangat dianjurkan, tapi ia masuk dalam kategori Naimitika Karma. Artinya, kewajiban menghaturkan canang beserta banten lengkap itu kekuatannya ada pada saat rerahinan seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon.
Jadi, rumus ideal menurut struktur lontar itu sebenarnya sederhana: Mesaiban tiap hari ditambah canang saat rainan.
Antara Tradisi, Gengsi, dan Krisis TPA Suwung
Masalahnya, realita di lapangan udah jauh dari kesederhanaan lontar. Apalagi di kawasan aglomerasi selatan seperti Denpasar, Gianyar, sampai Tabanan. Di zona dengan kepadatan tinggi ini, rutinitas mebanten canang setiap hari seringkali bermutasi jadi standar pembuktian sosial.
Kita ngerasa bersalah kalau pelinggih nggak penuh canang bungkus plastik tiap pagi. Padahal, ego visual ini punya harga mahal. Tahun 2024, Bali memproduksi 1,2 juta ton sampah, dan 68% di antaranya organik—termasuk sisa canang dan banten. TPA Suwung bahkan pernah kebakaran karena gas metana dari tumpukan sampah ritual ini. Dan puncaknya? TPA Suwung resmi menolak sampah organik mulai 1 April 2026.
Kesimpulan: Lontar Mengatur, Dresta Memberi Konteks
Tentu saja, kita nggak bisa menyamaratakan semuanya. Di banyak keluarga Bali, mebanten canang setiap hari sudah menjadi dresta atau tradisi turun-temurun. Kalau ini sudah jadi kesepakatan adat keluarga, praktik itu sah-sah saja dan posisinya sejajar secara hukum adat. (Kalau ragu, selalu diskusikan dengan pemangku atau sulinggih keluargamu, karena konten ini murni edukasi berbasis lontar).
Namun, kalau selama ini Khe memaksakan diri membeli canang berplastik tiap hari cuma demi social approval, mungkin ini saatnya merenung. Ritual yang merusak lingkungan bukanlah ritual yang sempurna. Kembalilah pada kesederhanaan Mesaiban; itu bukan kemunduran, melainkan jalan pulang yang disetujui pustaka suci.




