ORASI

Capek Mental Gen Z di Bali: Pura-Pura Keren demi Validasi Sosial

Sadar nggak sih, Ton? Kita ini mungkin generasi yang fisiknya paling rebahan, tapi beban kepalanya paling berat. Hampir setiap weekend, linimasa selalu penuh dengan orang yang sibuk unjuk gigi. Ada yang pamer hustle culture, ada yang sibuk healing, ada juga yang mati-matian mempertahankan personal branding sebagai anak muda paling cultured se-Bali. Pada akhirnya, semua tuntutan untuk tampil sempurna ini menjadi pemicu utama capek mental Gen Z belakangan ini.

Mari kita jujur-jujuran. Memelihara gengsi itu menguras energi. Apalagi kalau gaji UMR kita masih sering numpang lewat doang di tanggal muda.

Kopi 60 Ribu, Obrolan Nol Besar di Tongkrongan

Coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali Khe nongkrong bareng circle terdekat tanpa ada agenda tersembunyi untuk bikin Instastory. Duduk berempat di coffee shop baru di Denpasar, pesen kopi harga 60 ribu yang esnya udah mencair karena kelamaan ditinggal nyari angle foto.

Secara fisik kita duduk berdekatan, tapi ego masing-masing sibuk mencari panggung. Si Wi sibuk ngomongin crypto yang lagi anjlok biar kelihatan intelek, sementara si Gek sibuk komplain soal antrean club semalam biar eksistensi pergaulannya diakui. Kita sering kali terjebak dalam tongkrongan yang isinya cuma adu nasib dan adu pencapaian berkedok deep talk. Nggak heran kalau pulang ke rumah, bukannya fresh, malah tambah burnout.

Membongkar Ilusi Ego Lewat Konsep Anatta

Di titik ini, mungkin kita perlu sedikit menampar diri sendiri pakai filosofi Buddha. Ada sebuah konsep yang disebut Anatta, yang secara sederhana berarti ketiadaan roh yang permanen, atau ilusi ego.

Menurut ajaran ini, identitas, value, dan “Aku” yang Khe bangga-banggakan mati-matian di media sosial itu sebenarnya kosong. Karakter yang kita bangun di internet itu hanya kumpulan persepsi dari orang lain. Lucunya, sumber capek mental Gen Z justru berasal dari usaha keras kita untuk mempertahankan ilusi yang sebenarnya tidak ada intinya tersebut.

Gengsi yang Menguras Gaji UMR

Bayangkan saja, kita bekerja keras dari Senin sampai Jumat, hanya untuk menghabiskan uangnya demi membeli barang atau nongkrong di tempat yang sebenarnya tidak kita suka, demi mengesankan orang-orang yang juga tidak peduli pada kita. Melihara topeng ekspektasi sosial ini mahal, Ton. Kalau besok Instagram dan TikTok tiba-tiba servernya mati permanen, apakah Khe masih tahu siapa diri Khe sebenarnya? Atau jangan-jangan, kita ini cuma NPC (Non-Playable Character) yang kebetulan nyambung karena algoritmanya disamain sama Mark Zuckerberg.

Waktunya Lepas Topeng Validasi Sosial

Terus, apa solusinya buat ngatasin rantai capek mental Gen Z ini? Gampang, tapi susah dilakuin: turunkan egomu, dan mulailah merangkul penderitaan kolektif ini bareng-bareng.

Nggak perlu lagi passive-aggressive nyindir teman yang haus validasi, karena diam-diam kita juga ngelakuin hal yang sama dengan genre yang berbeda. Mulai minggu depan, cobalah nongkrong di warung biasa pakai kaos oblong favoritmu yang kerahnya udah melar. Nggak usah mikirin dress code, nggak usah update ke mana-mana.

Rasakan betapa leganya ngopi dan ngeluh soal kerjaan tanpa perlu jadi badut buat audiens di dunia maya. Berhenti mencari validasi dari orang lain, karena jujur aja, hidup kita udah cukup berat tanpa harus ditambah beban pura-pura keren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *