Skip to main content

ORASI

Ketika Budaya Bali Cuma Jadi Pelindung Sepi Engagement, Kita Perlu Belajar dari Guruh

Kita hidup di era di mana elemen kebudayaan itu gampang banget di-copy-paste. Tinggal comot potongan suara gamelan, tempel aksara Bali di desain kaos (walau ejaannya kadang kebalik), atau jadikan pura sebagai properti estetik healing.

Dalam hitungan jam, unsur budaya langsung berubah jadi tren, branding, atau komoditas. Pertanyaannya, Ton: ini bentuk apresiasi budaya Bali, atau budayanya cuma disuruh ngayah buat algoritma dan engagement?

Masalahnya muncul saat unsur budaya ini cuma diambil karena eksotis atau laku dijual, tanpa repot-repot mencari tahu maknanya apalagi menyebut nama seniman aslinya. Di tengah ramainya tren kreator dan brand yang numpang tenar pakai nama Bali, kita mungkin perlu flashback sebentar ke era 1970-an dan melihat cara Guruh Soekarnoputra bermain di wilayah ini.

Anak Presiden yang Memilih Jadi Murid

Guruh jelas bukan orang sembarangan. Dia adalah putra presiden pertama Indonesia. Dengan privilese dan status sosial sebesar itu, dia bisa saja menyuruh ajudannya mendatangkan seniman Bali ke Jakarta cuma buat jadi tontonan dinner eksklusif.

Tapi, kenyataannya dia mengambil rute yang lebih repot. Ketertarikannya pada Bali nggak berhenti pada eksotisme visual. Guruh datang dan memposisikan dirinya sebagai murid. Ia sengaja mempelajari tari dan musik Bali langsung dari para maestro, seperti I Wayan Rindi dan I Nyoman Kakul.

Guruh sadar, status sosialnya di pusat nggak otomatis bikin dia jadi ahli. Ada pengetahuan tubuh, musikalitas, dan filosofi yang harus dipelajari dari orang-orang lokal yang mewarisinya. Intinya: mengagumi sebuah budaya nggak otomatis berarti kamu memahaminya.

Guruh Gipsy: Eksperimen yang Nggak Cuma Caper

Hasil dari proses “nyantrik” itu nggak cuma jadi cerita nostalgia. Jejaknya terekam jelas di album Guruh Gipsy yang dirilis tahun 1977.

Di album ini, progressive rock, synthesizer, dan gitar berpadu dengan gendér serta idiom musikal Bali. Bedanya dengan kreator zaman now? Unsur Bali di karya Guruh bukan sekadar efek suara tempelan biar musiknya terdengar “tradisional”. Gamelan nggak diperlakukan sebagai barang rongsokan museum, tapi diajak berdialog secara setara dengan instrumen modern untuk menciptakan bahasa baru.

Ini menampar Gen Z Bali yang sering terjebak pilihan palsu: mau jadi modern atau mempertahankan tradisi. Guruh membuktikan bahwa tradisi Bali nggak harus ditinggalkan supaya Indonesia terdengar modern.

Beda Tipis: Apresiasi Budaya Bali vs Eksploitasi Algoritma

Apakah Guruh itu suci dan bebas dari kritik? Ya nggak juga. Istilah cultural appropriation (apropriasi budaya) belum jadi bahan obrolan tongkrongan saat album itu dibuat. Kita tetap bisa kritis mempertanyakan apakah para seniman lokal saat itu mendapat kompensasi dan kredit yang adil secara ekonomi.

Namun, Guruh bisa jadi pintu masuk buat kita mengevaluasi standar industri kreatif Bali hari ini. Jangan sampai kita terjebak konflik kedaerahan yang sempit. Orang dari luar Bali bisa belajar dengan penuh penghormatan, sementara orang Bali sendiri bisa saja memakai budayanya secara dangkal demi viral.

Perbedaan antara apresiasi budaya Bali dan eksploitasi itu tipis tapi nyata. Apresiasi berarti kamu belajar maknanya, melibatkan pelaku budayanya, dan memberikan manfaat yang adil. Eksploitasi itu saat kamu mengambil elemen yang terlihat estetik dari internet, meraup untung (adsense atau brand awareness), lalu menempatkan diri sebagai pencipta tunggal tanpa melibatkan masyarakat aslinya.

Jadi, sebelum membawa elemen budaya ke panggung yang lebih besar, pastikan perbekalan pertamamu adalah kerendahan hati untuk datang sebagai murid. Bukan sekadar niat FYP.

Menurut Khe, di industri kreatif kita hari ini, orang-orang benar-benar mempelajari budaya Bali, atau baru sebatas memakai “baju”-nya doang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *