ORASI

Kerja Gampang, Tapi Masa Depan Nggak Ada: Realita Gelap Pengangguran di Bali

Bali punya tingkat pengangguran rendah. Di atas kertas, ini terlihat seperti kabar baik. Ekonomi tampak bergerak dan pariwisata hidup. Tapi, buat kita-kita yang tiap hari ngerasain macetnya By Pass demi masuk shift pagi, ada pertanyaan yang lebih jujur: kerjanya memberi hidup, atau cuma cukup buat bertahan sampai gajian berikutnya? Sebagai anak muda yang hidup di…

Read More

Hak Waris Perempuan Bali: Bli Dapat Sertifikat, Gek Bayar Tagihan RS?

Mari kita bicarakan gajah di pelataran sanggah, Ton. Sesuatu yang sering bikin rapat keluarga mendadak hening, atau malah berujung gebrak meja. Ya, kita sedang membicarakan realita hak waris perempuan Bali. Skenarionya sering kali begini: Bapak masuk rumah sakit, Gek yang bolak-balik ngurus tebusan obat, begadang di bangsal, sampai mutasi rekeningnya isinya cicilan BPJS semua. Bli?…

Read More

Gaji UMK Bali vs Gengsi Banjar: Beragama Itu Murah, Tetangga yang Bikin Mahal

Kalau bicara soal gaji UMK Bali, rasanya seperti melihat story teman yang lagi liburan ke Eropa: ada bentuknya, tapi terasa jauh dari jangkauan. Buat Khe yang tiap hari menembus kemacetan, bekerja keras bagai kuda, momen gajian harusnya jadi ajang balas dendam untuk self-reward. Tapi realitanya? Tanggal gajian sering kali bertepatan dengan rentetan rerahinan agung. Tiba-tiba,…

Read More

Boikot di Sosmed, Ngantri Brunch di Canggu: Ironi Bisnis WNA & KTP ‘Sakti’ Warga Lokal

Ton, timeline sosmed kita belakangan ini penuh banget sama gerakan boikot. Pagi-pagi share poster semangka, siang debat geopolitik, tapi sorenya? Asik ngantri brunch estetik di resto viral kawasan Canggu atau Ubud. Kelihatannya biasa aja, sampai Khe tahu satu fakta dark: Founder resto viral tersebut berasal dari negara yang paspornya aja nggak diakui sama Republik Indonesia….

Read More

LPD Bali: Warisan Budaya Intangible Dunia yang Nyaris Terlupakan

Di tengah pesatnya modernisasi yang menyelimuti aglomerasi kawasan selatan—mulai dari pusat bisnis Denpasar, hingga denyut ekonomi dan pariwisata yang menyambung kuat ke wilayah Gianyar dan Tabanan—ada satu pilar ekonomi yang kerap dipandang sebelah mata oleh generasi modern. Pilar tersebut adalah Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Dalam membahas eksistensi lembaga ini, fokus utamanya bukanlah untuk menghakimi pengelola…

Read More

Mebanten Canang Setiap Hari: Wajib Menurut Lontar, atau Cuma Gengsi Tetangga?

Bangun pagi, mandi, lalu rutinitas dimulai: menyapu halaman dan mebanten canang setiap hari. Buat sebagian besar dari kita, ini udah kayak default setting hidup di Bali. Nggak mebanten sehari rasanya ada yang kurang, atau lebih tepatnya: takut diomongin mertua atau tetangga sebelah. Tapi, pernah nggak Khe bener-bener ngecek, apakah mebanten canang setiap hari itu beneran…

Read More

Krisis Demografi Bali: Disuruh Cetak 4 Anak demi Ketut, Tapi UMR Cuma Cukup Buat Bayar Kos

Belakangan ini, para elit dan pejabat daerah sedang panik berjamaah. Pasalnya, krisis demografi Bali perlahan bukan lagi sekadar mitos, melainkan realita pahit. Target kampanye KB Bali yang mewajibkan warga punya empat anak demi menyelamatkan nama “Ketut” dari kepunahan ternyata gagal total di lapangan. Pemerintah sibuk menyalahkan generasi muda yang dituding “kehilangan jati diri” karena menunda…

Read More

Biaya Ngaben Massal di Bali: Solusi Murah atau Sekadar “Gacha” Desa Adat?

Ton, kita semua tahu realitanya. Kerja pontang-panting, nge- shift dari pagi ketemu pagi di sektor hospitality, eh gaji UMR yang lewat rekening cuma numpang lewat. Di tengah saldo ATM yang seringnya cuma sisa debu, tiba-tiba ada beban utang leluhur yang harus dilunasi. Ngaben. Upacara wajib yang nggak bisa di- skip, apalagi di-cancel pakai alasan “maaf,…

Read More